Pemerintah Indonesia terus mencermati dengan saksama situasi yang terjadi di Venezuela pasca serangan militer Amerika Serikat yang berujung pada aksi penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada akhir pekan lalu
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, mengatakan serangan militer serta aksi penculikan yang dilakukan pemerintah Donald Trump adalah tindakan semena-mena terhadap suatu negara berdaulat.
Tindakan AS kata Menlu bakal menjadi catatan buruk bagi komunitas internasional, tindakan itu juga dapat memantik eskalasi dan ketidakstabilan kawasan.
"Indonesia menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas setiap tindakan yang melibatkan penggunaan atau ancaman kekuatan, yang berisiko menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan internasional serta dapat mengganggu stabilitas dan perdamaian kawasan, serta melemahkan prinsip kedaulatan dan diplomasi," kata Sugiono dilansir Senin (5/1/2026).
Sebagai bangsa berdaulat hak-hak masyarakat Venezuela lanjut Sugiono harus dijunjung tinggi dan dihormati pemerintahan Donald Trump. Rakyat Venezuela mesti dibiarkan mandiri menentukan nasib bangsanya tanpa intervensi asing.
Pemerintah Indonesia sama sekali tidak sepakat dan menentang keras rencana Pemerintah AS yang mau ikut campur mengurus negara tersebut setelah Maduro digulingkan.
"Penting bagi komunitas internasional untuk menghormati hak dan kehendak rakyat Venezuela dalam menjalankan kedaulatan mereka serta menentukan sendiri arah dan masa depan bangsa mereka," katanya.
Indonesia, lanjut Menlu, juga menyerukan kepada semua pihak agar mengedepankan dialog dan menahan diri, serta mematuhi hukum internasional.
Baca Juga: Disidang Hari Ini, Apa Saja Dakwaan Buat Presiden Venezuela Nicolas Maduro?
"Termasuk prinsip-prinsip yang tertuang dalam Piagam PBB dan hukum humaniter internasional. Khususnya perlindungan terhadap warga sipil, yang keselamatan dan kondisinya harus tetap menjadi prioritas utama," jelasnya.