Penerapan PP Tunas yang membatasi akses media sosial bagi anak menjadi langkah penting di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak paparan layar berlebih.

Berbagai studi dan pengamatan menunjukkan bahwa penggunaan gawai secara berlebihan pada anak dapat memengaruhi tumbuh kembang, mulai dari gangguan fokus, keterlambatan perkembangan sosial, hingga risiko kesehatan mental.

Kondisi ini mendorong perlunya pendekatan yang tidak hanya membatasi, tetapi juga mendampingi anak dalam menjalani keseharian di era digital.

Baca Juga: Kurangi Screen Time Tanpa Drama: 5 Cara Tetap Waras Tanpa Harus 'Puasa Gadget'

Dokter anak dr. Kanya Ayu Paramastri menilai bahwa pembatasan screen time merupakan langkah yang tepat, namun perlu diimbangi dengan aktivitas pengganti yang relevan.

“Anak membutuhkan aktivitas fisik dan eksplorasi nyata untuk merangsang perkembangan otak, membangun koordinasi tubuh, serta melatih regulasi emosi dan kepercayaan diri. Active play bukan sekadar bermain, tetapi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman langsung di dunia nyata seperti bermain di ruang terbuka, berolahraga ringan, atau aktivitas eksploratif lainnya dapat membantu anak belajar menghadapi tantangan, termasuk memahami proses mencoba dan bangkit dari kegagalan.

Baca Juga: Andy F Noya Bicara soal Anak-anak Main Gadget: Orang Tua Harus Jadi Pengawas Bijak

Seiring dengan perubahan pola pengasuhan di era digital, peran orang tua dinilai semakin krusial. Tidak hanya membatasi akses anak terhadap gawai, tetapi juga menciptakan ruang aman bagi anak untuk bereksplorasi.

Pendekatan ini dinilai mampu membantu anak tumbuh lebih percaya diri dan tangguh. Aktivitas seperti bermain sepeda, berlari, atau permainan fisik lainnya juga dinilai efektif dalam melatih kemampuan motorik sekaligus membangun keberanian sejak dini.

Dalam proses eksplorasi tersebut, risiko kecil seperti terjatuh atau mengalami luka ringan merupakan hal yang wajar. Namun, hal ini tidak seharusnya menjadi alasan untuk membatasi ruang gerak anak.

Baca Juga: 10 Hal yang Dapat Dilakukan Orang Tua untuk Mencegah Anak Kecanduan Gadget

dr. Kanya menjelaskan bahwa respons orang tua saat anak mengalami cedera justru memiliki peran penting dalam membentuk rasa aman anak.

“Yang pertama perlu dilakukan adalah tetap tenang, karena anak akan merespons reaksi orang di sekitarnya. Dunia anak adalah bermain, sehingga jatuh dan terluka menjadi bagian dari proses tersebut,” jelasnya.

Ia menyarankan pendekatan sederhana dalam menangani luka ringan melalui metode 4C, yakni Chill (tetap tenang), Clean & Disinfect (membersihkan luka), Cover (menutup luka), dan Comfort (menjaga kenyamanan anak).

Dengan semakin berkembangnya teknologi, anak-anak kini hidup dalam dua dunia sekaligus: digital dan nyata. Oleh karena itu, keseimbangan antara perlindungan di ruang digital dan pengalaman di dunia nyata menjadi kunci penting dalam mendukung tumbuh kembang mereka.

Pendekatan ini tidak hanya membantu anak tetap aman dari risiko paparan digital berlebih, tetapi juga memastikan mereka mendapatkan pengalaman belajar yang utuh melalui interaksi langsung, aktivitas fisik, dan eksplorasi lingkungan sekitar.

Dengan pendampingan yang tepat, anak diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih adaptif, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.