PwC Indonesia bersama para pemangku kepentingan BUMN menyelenggarakan forum bertajuk “Audit-ready ICOFR: Memastikan kesiapan audit ICOFR BUMN oleh praktisi eksternal sesuai petunjuk teknis ICOFR”, sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapan BUMN dalam menghadapi kewajiban implementasi Internal Control over Financial Reporting (ICOFR).
Acara ini mengangkat urgensi kesiapan audit ICOFR, khususnya menjelang dimulainya tahapan asurans oleh praktisi eksternal pada laporan keuangan 2026 untuk BUMN Tier 1 sesuai roadmap yang ditetapkan bagi KBUMN.
Sahala Situmorang, Managing Director Finance dari Danantara Asset Management, dalam sambutannya, menekankan bahwa implementasi ICOFR menjadi fondasi penting dalam memperkuat tata kelola BUMN di tengah dinamika bisnis yang semakin kompleks.
Baca Juga: Danantara Pastikan Pisahkan Risiko BUMN dan Investasi
“Implementasi ICOFR merupakan langkah strategis dalam memperkuat fondasi tata kelola dan meningkatkan kepercayaan terhadap BUMN. Ke depan, kesiapan audit ICOFR bukan hanya soal memenuhi kewajiban regulasi, tetapi menjadi enabler penting untuk memastikan kualitas pengambilan keputusan serta keberlanjutan kinerja perusahaan," ungkapnya, dikutip pada Jumat (19/6/2026).
PwC Indonesia menyoroti bahwa perjalanan implementasi ICOFR mencakup tahapan yang komprehensif, mulai dari perancangan, implementasi, pemantauan berkelanjutan, hingga asesmen manajemen dan asurans eksternal. Setiap tahapan membutuhkan disiplin eksekusi yang konsisten serta dukungan lintas fungsi dalam organisasi.
Kesiapan audit ICOFR juga semakin ditunjang oleh fokus BUMN dalam memperkuat aspek fundamental implementasi, khususnya pada konsistensi pelaksanaan pengendalian internal, kualitas evidence, serta integrasi proses lintas fungsi dalam organisasi. Selain itu, penguatan kapabilitas sumber daya manusia, optimalisasi Control Self-Assessment (CSA), serta stabilisasi IT controls (ITGC dan ITAC) menjadi area strategis yang terus dikembangkan untuk memastikan proses pengendalian internal audit dapat berjalan dan siap diuji oleh auditor eksternal.
Yuliana Sudjonno, PwC Indonesia Risk Assurance Partner dan Sustainability Leader, mengatakan, “Implementasi ICOFR tidak hanya bersifat kepatuhan, tetapi juga memberikan nilai tambah nyata bagi organisasi, mulai dari peningkatan keandalan laporan keuangan, efisiensi proses dan financial closing. Selain itu, implementasi ICOFR juga dapat memberikan manfaat penguatan tata kelola yang mendukung operasional perusahaan. Menjelang 2026, fokus BUMN perlu bergeser dari sekadar implementasi menuju kesiapan audit yang menyeluruh. Berdasarkan pengalaman kami, tantangan terbesar biasanya bukan pada desain framework, melainkan pada konsistensi eksekusi, kualitas dokumentasi, dan kesiapan evidence yang dapat diandalkan oleh auditor eksternal.”
Dalam konteks yang lebih luas, BUMN juga dihadapkan pada dinamika eksternal yang semakin kompleks—mulai dari kondisi makroekonomi, volatilitas nilai tukar, hingga risiko iklim—yang semakin menekankan pentingnya pengendalian internal yang kuat sebagai fondasi pelaporan keuangan yang andal.