Puasa selama Ramadan merupakan ibadah yang sarat nilai spiritual dan kedisiplinan diri. Namun bagi penyandang diabetes, keputusan untuk berpuasa tidak bisa dilakukan tanpa persiapan.
Menahan makan dan minum selama belasan jam berpotensi memengaruhi kadar gula darah secara signifikan. Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa banyak penderita diabetes tetap dapat menjalankan puasa dengan aman, selama dilakukan dengan perencanaan yang matang, pengawasan medis, serta pengaturan pola makan yang tepat.
Dikutip dari Times of India, Senin (23/2/2026), Dr. Anshul Singh dari Artemis Hospitals menjelaskan bahwa perubahan pola makan dan waktu konsumsi obat selama Ramadan dapat memicu fluktuasi gula darah.
“Tidak makan atau minum dalam jangka waktu lama dapat mengubah kadar gula darah Anda, yang dapat menyebabkan hipoglikemia, hiperglikemia, dehidrasi, atau bahkan masalah lain jika tidak ditangani dengan benar. Sebelum memulai puasa, Anda harus berkonsultasi dengan dokter,” tuturnya.
Ia pun menekankan bahwa konsultasi sebelum Ramadan penting untuk menilai kondisi kesehatan secara menyeluruh dan menyesuaikan terapi bila diperlukan.
Pemantauan gula darah secara rutin juga menjadi kunci. Menurut para ahli, memeriksa kadar glukosa tidak membatalkan puasa dan justru sangat dianjurkan.
Dr. David Chandy, Direktur Endokrinologi dan Diabetologi di Sir H. N. Reliance Foundation Hospital, menegaskan bahwa pasien sebaiknya mengecek gula darah sebelum sahur, di siang hari, sore hari, serta dua jam setelah berbuka.
Pemeriksaan tambahan diperlukan bila muncul gejala seperti pusing, gemetar, lemas, atau rasa haus berlebihan. Puasa harus segera dihentikan apabila kadar gula darah turun di bawah 70 mg/dL atau melonjak di atas 300 mg/dL, maupun ketika muncul tanda-tanda hipoglikemia, hiperglikemia, atau dehidrasi.
Baca Juga: 5 Tips Puasa Lancar Tanpa Drama Rasa Lapar, Mau Coba?
Meski banyak pasien diabetes tipe 2 yang terkontrol dengan baik dapat berpuasa secara aman, tidak semua kondisi memungkinkan. Dr. Rajiv Kovil dari Zandra Healthcare menjelaskan bahwa proses penilaian risiko harus dilakukan terlebih dahulu.
Pasien dengan komplikasi seperti penyakit ginjal, gagal jantung, penyakit jantung yang sudah ada, infeksi akut, atau kondisi kehamilan berisiko tinggi dan umumnya tidak disarankan untuk berpuasa.
Ia juga menyoroti pentingnya penyesuaian dosis obat, terutama bagi pengguna insulin atau sulfonilurea, guna mencegah hipoglikemia selama jam puasa.
“Tujuannya adalah stabilitas, bukan penurunan glukosa yang agresif,” tegasnya.
Dari sisi nutrisi, pengaturan sahur dan berbuka memegang peranan penting. Sahur sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks yang dicerna perlahan, protein berkualitas, serta lemak sehat agar energi bertahan lebih lama dan kadar gula darah tetap stabil.
Makanan tinggi gula dan terlalu asin sebaiknya dihindari karena dapat memicu lonjakan glukosa sekaligus meningkatkan rasa haus. Saat berbuka, pengendalian porsi menjadi kunci.
Berbuka dengan jumlah kecil terlebih dahulu memberi kesempatan tubuh beradaptasi sebelum menerima asupan lebih besar. Konsumsi kurma yang menjadi tradisi dapat tetap dilakukan, tetapi dalam jumlah terbatas dan diperhitungkan dalam total asupan karbohidrat harian.
Hidrasi juga tak kalah penting. Kurangnya asupan cairan selama puasa dapat memperburuk kontrol gula darah dan meningkatkan risiko komplikasi.
Karena itu, kebutuhan cairan harus dipenuhi secara bertahap antara waktu berbuka hingga sahur, dengan pilihan minuman yang tidak tinggi gula dan tidak berlebihan kafein.
Pada akhirnya, puasa Ramadan bagi penderita diabetes bukanlah hal yang mustahil. Dengan perencanaan, pemantauan gula darah yang disiplin, pola makan seimbang, serta kerja sama yang erat dengan tenaga medis, ibadah puasa dapat dijalankan dengan aman.
Kuncinya adalah mengenali batas tubuh dan tidak ragu menghentikan puasa apabila kondisi kesehatan mengharuskannya. Ramadan tetap bisa menjadi momen spiritual yang bermakna tanpa mengorbankan keselamatan.
Baca Juga: 8 Buah Kering Terbaik untuk Meningkatkan Imunitas Selama Puasa Ramadan