4. 'Hati-hati, sesuatu yang buruk akan terjadi!'
Rasa khawatir orang tua memang wajar. Namun jika ketakutan menjadi bahasa sehari-hari di rumah, anak akan belajar melihat dunia sebagai tempat yang penuh ancaman.
Akibatnya, mereka tumbuh dengan kewaspadaan berlebihan. Bahkan ketika situasi sebenarnya aman, pikiran mereka tetap sibuk memprediksi kemungkinan terburuk.
Pola seperti ini sering menjadi dasar munculnya kecemasan kronis.
5. 'Jangan mempermalukan saya'
Kalimat ini kerap terdengar saat anak dianggap bertingkah di luar harapan. Namun tanpa disadari, anak belajar bahwa pendapat orang lain lebih penting daripada perasaan mereka sendiri.
Di masa dewasa, kondisi ini dapat berkembang menjadi kecemasan sosial, ketakutan membuat kesalahan di depan umum, atau kebiasaan selalu ingin menyenangkan orang lain demi mendapatkan penerimaan.
6. 'Kamu seharusnya lebih tahu'
Alih-alih membantu anak memahami kesalahan, kalimat ini sering membuat mereka merasa dirinya memang buruk atau tidak cukup baik.
Psikolog menilai ada perbedaan besar antara mengoreksi perilaku dan menanamkan rasa malu.
Anak yang sering menerima ucapan seperti ini cenderung tumbuh dengan kritik batin yang keras dan terus merasa belum cukup pintar, belum cukup baik, atau belum cukup berhasil.
Kata-Kata Bisa Menjadi Suara Batin Anak
Dampak dari kalimat-kalimat tersebut memang tidak selalu terlihat langsung. Banyak anak tampak baik-baik saja hingga akhirnya menyadari saat dewasa bahwa mereka hidup dengan rasa takut berlebihan, sulit mempercayai diri sendiri, atau terus merasa harus memenuhi ekspektasi orang lain.
Karena itu, psikolog menekankan pentingnya bahasa yang digunakan di rumah. Anak bukan hanya mengingat apa yang dikatakan kepada mereka, tetapi juga pesan tentang siapa diri mereka yang tersimpan di balik kata-kata tersebut.
Rumah yang sehat secara emosional bukan berarti harus selalu sempurna. Orang tua tetap bisa marah, lelah, atau melakukan kesalahan.
Yang terpenting adalah adanya kesabaran, perbaikan, dan upaya membuat anak merasa aman untuk memiliki emosi.
Baca Juga: Dua ‘Kesalahan’ Orang Tua yang Menghambat Nutrisi Anak Menurut dr. Mesty Ariotedjo