Growthmates, di dunia yang digerakkan oleh komunikasi, kemampuan menyampaikan pikiran secara jelas dan percaya diri merupakan salah satu keterampilan hidup paling berharga yang bisa dimiliki seorang anak.

Namun pada kenyataannya, tidak sedikit anak yang ragu berbicara, baik di kelas, di lingkungan sosial, bahkan di rumah sendiri. Rasa takut dihakimi, malu, atau kurangnya kesempatan berlatih sering kali membuat mereka memilih diam.

Psikolog menegaskan bahwa kepercayaan diri dalam berkomunikasi tidak tumbuh dari tekanan untuk tampil sempurna, melainkan dari ruang yang aman untuk berbagi ide dan perasaan.

Ketika keluarga secara sadar memupuk kebiasaan berekspresi sejak dini, anak tidak hanya menjadi lebih berani berbicara, tetapi juga membangun harga diri, kecerdasan emosional, dan potensi kepemimpinan.

Membantu anak menjadi pembicara yang percaya diri bukan berarti mengubahnya menjadi ekstrovert, melainkan memberdayakan setiap anak untuk menemukan dan memercayai suaranya sendiri.

Dan, berikut sederet tips membesarkan anak agar tumbuh menjadi pembicara yang percaya diri, sebagaimana dikutip dari Times of India, Minggu (22/2/2026).

1. Rumah sebagai Ruang Aman untuk Didengar

Kepercayaan diri anak dalam berbicara berawal dari keyakinan bahwa pikirannya bernilai. Kebiasaan sederhana seperti mendengarkan tanpa menyela, menanyakan pendapat mereka, dan merespons dengan penuh perhatian menunjukkan bahwa suara mereka dihargai.

Percakapan santai saat makan bersama atau di sela rutinitas harian bisa menjadi latihan komunikasi yang alami dan konsisten.

Ketika orang tua tidak terburu-buru mengoreksi atau menolak ide anak, mereka belajar bahwa berpendapat bukanlah hal yang berisiko. Rasa aman secara emosional inilah yang perlahan membangun keyakinan dalam diri.

Lingkungan rumah yang terbuka terhadap pertanyaan, cerita, dan diskusi juga membantu memperkaya kosakata serta kemampuan menyusun cerita secara runtut.

2. Biasakan Bercerita dan Berdialog Setiap Hari

Kemampuan berbicara berkembang melalui latihan yang berulang. Mengajak anak menceritakan pengalaman hari itu, menggambarkan suatu peristiwa, atau berbagi kisah imajinatif membantu mereka belajar menyusun pikiran dengan terstruktur dan jelas.

Bercerita bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana melatih kelancaran, imajinasi, dan ekspresi emosi.

Orang tua dapat memancing percakapan dengan pertanyaan terbuka seperti, 'Apa hal paling menyenangkan hari ini?' atau 'Bagaimana perasaanmu saat itu?'.

Pertanyaan semacam ini mendorong jawaban yang lebih kaya dibandingkan respons singkat ya atau tidak. Tanpa disadari, latihan informal di rumah ini menjadi bekal berharga ketika anak harus berbicara dalam situasi yang lebih formal, seperti presentasi di sekolah.

Baca Juga: Orang Tua Wajib Tahu, Ini Cara Mengatasi Gangguan Konsentrasi Anak