Direktur PT Nusantara Pelabuhan Handal Tbk, Sony Sutanto, menilai kerja keras masih menjadi salah satu faktor penting bagi perusahaan untuk memenangkan persaingan industri.

Namun, menurutnya, makna kerja keras seringkali dipahami secara berbeda oleh setiap individu.

Sony mengatakan, sebagian orang memandang kerja keras sebagai bentuk pengorbanan masa kini demi keberhasilan di masa depan. Di sisi lain, kata Sony, ada pula yang menganggap kerja keras justru mengganggu keseimbangan hidup atau work-life balance.

“Kerja keras itu bisa dilihat dari berbagai sisi. Ada orang bekerja keras dalam konsep mengorbankan masa kini untuk keberhasilan masa depan. Tetapi, ada orang melihat kerja keras itu mengganggu keseimbangan hidupnya,” ungkap Sony saat berbincang dengan Olenka, di DAvenue Office Space, Jakarta, belum lama ini.

Menurut Sony, perbedaan cara pandang tersebut sangat subjektif dan dipengaruhi oleh kondisi masing-masing individu.

“Ini sangat subjektif, jadi bergantung pada siapa orangnya dan dalam kondisi apa dia sebenarnya,” katanya.

Penulis buku dan juga Cofounder Kafe KOMUKA ini menegaskan bahwa secara keseluruhan kerja keras tetap menjadi bagian penting dalam strategi perusahaan untuk bertahan dan unggul di tengah kompetisi bisnis yang semakin ketat.

“Kalau dilihat dari keseluruhan, maka kerja keras itu memang bagian dari upaya perusahaan untuk memenangi persaingan. Kalau tidak ada kerja keras, maka persaingannya menjadi tidak seimbang,” ungkapnya.

Sony mengingatkan, perusahaan akan mudah tertinggal apabila tim kerja tidak memiliki pemahaman yang tepat mengenai pentingnya kerja keras.

“Kompetitor akan mengalahkan kita dengan mudah. Nah, kalau tim kita memahami kerja keras itu dengan keliru, maka perusahaan kita akan susah maju. Itu faktanya demikian,” tutur Sony.

Baca Juga: Etiskah HR Memantau Akun Medsos Karyawan? Ini Penjelasan Sony Sutanto