Banyak orang mengira kecemasan di masa dewasa muncul begitu saja karena tekanan pekerjaan, hubungan, atau tuntutan hidup.

Namun, para psikolog menilai akar kecemasan sering kali sudah terbentuk sejak masa kanak-kanak, termasuk lewat kata-kata yang terus didengar di rumah.

Anak-anak tidak hanya mendengar ucapan orang tua atau orang dewasa di sekitarnya. Mereka juga menyerap nada bicara, pengulangan, hingga pesan emosional yang tersembunyi di balik kalimat sehari-hari.

Bagi orang dewasa, beberapa frasa mungkin terdengar biasa atau bahkan dianggap bentuk disiplin. Namun, bagi anak-anak, kata-kata tersebut bisa membentuk cara mereka memandang diri sendiri, memahami emosi, dan merasa aman dalam hubungan.

Dalam jangka panjang, kalimat yang terus diulang dapat berubah menjadi suara batin yang menemani mereka hingga dewasa.

Tak jarang, suara itu muncul dalam bentuk rasa cemas, takut salah, terlalu banyak berpikir, hingga kebutuhan untuk selalu menyenangkan orang lain.

Dan, dikutip dari Times of India, Sabtu (8/5/2026), berikut 6 frasa yang menurut psikolog dapat meninggalkan dampak emosional mendalam pada anak jika terlalu sering diucapkan.

1. 'Kamu terlalu sensitif'

Kalimat ini membuat anak belajar untuk meragukan emosinya sendiri. Alih-alih memahami bahwa perasaan adalah sesuatu yang valid, mereka justru merasa reaksinya berlebihan dan merepotkan orang lain.

Anak yang terus mendengar frasa ini cenderung tumbuh dengan keyakinan bahwa menunjukkan emosi adalah tanda kelemahan.

Akibatnya, mereka menekan kesedihan, kemarahan, atau ketakutan sampai akhirnya muncul kembali dalam bentuk kecemasan, stres, atau kelelahan emosional saat dewasa.

2. 'Berhenti menangis atau aku akan memberimu alasan untuk menangis'

Bagi anak, kalimat ini bukan sekadar perintah untuk tenang. Pesan yang diterima justru bahwa mengekspresikan perasaan adalah sesuatu yang tidak aman.

Anak akhirnya belajar menyembunyikan rasa sakit alih-alih mencari kenyamanan.

Saat dewasa, mereka bisa kesulitan mengungkapkan kesedihan, merasa bersalah ketika membutuhkan dukungan emosional, dan terbiasa memendam masalah sendirian.

3. 'Mengapa kamu tidak bisa seperti saudaramu?'

Perbandingan sering digunakan sebagai cara memotivasi anak. Padahal, banyak anak menangkapnya sebagai bentuk penolakan terhadap diri mereka sendiri.

Ketika terus dibandingkan, anak bisa tumbuh menjadi pribadi perfeksionis yang selalu merasa kurang. Mereka terbiasa menilai diri berdasarkan pencapaian orang lain dan sulit merasa puas terhadap diri sendiri.

Baca Juga: Tips Membesarkan Anak agar Tumbuh Menjadi Pembicara yang Percaya Diri