Meski demikian, kata Anastasia, orang tua juga perlu peka apabila setelah menjalani aktivitas dalam waktu yang cukup lama anak tetap merasa terbebani.

Dalam kondisi tersebut, tidak ada salahnya menerima bahwa aktivitas tersebut memang bukan yang paling sesuai bagi anak.

"Kalau hampir sudah setahun rasanya berat sekali, ya sudah, mungkin kita juga butuh memperbesar hati. Mungkin ini bukan yang cocok buat anak kita dan kita bisa mencari aktivitas yang lain," katanya.

Di sisi lain, Anastasia mengingatkan agar orang tua tidak terburu-buru menghentikan suatu kegiatan hanya karena anak mengeluh setelah satu atau dua kali pertemuan.

Menurutnya, otak anak membutuhkan pengulangan dan pengalaman berulang untuk dapat benar-benar mengenali serta mengembangkan kemampuan baru.

"Saya setuju jangan langsung gampang berhenti setelah satu atau dua kali pertemuan. Otak anak itu butuh repetisi, butuh pengalaman berulang untuk mereka mencoba sesuatu," ungkap Anastasia.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa kelas atau aktivitas di luar sekolah seharusnya dimanfaatkan sebagai kesempatan bagi anak untuk mengembangkan potensi yang belum tentu dapat diasah melalui pendidikan formal.

Karena itu, kata dia, orang tua diharapkan mendampingi proses tersebut dengan sikap yang santai dan tidak semata-mata berorientasi pada prestasi.

"Gunakanlah pengalaman di kelas luar sekolah ini sebagai kesempatan anak mengembangkan diri di hal-hal yang tidak bisa berkembang di sekolah. Jadi kita juga membawanya dengan ringan dan rileks, bukan hanya mengejar juaranya," tutup Anastasia.

Baca Juga: Menyiapkan Masa Depan Anak, Ini 3 Hal yang Perlu Dipelajari Orang Tua