Banyak orang tua ingin memberikan yang terbaik bagi anak, termasuk menentukan aktivitas yang dianggap dapat menunjang masa depan mereka sejak dini.

Namun, Psikolog Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., Psikolog, mengingatkan bahwa di usia sekolah dasar, peran orang tua sebaiknya bukan menentukan jalan hidup anak, melainkan membantu mereka mengenali minat dan kesenangan melalui berbagai pengalaman.

Menurut Anastasia, masa kanak-kanak merupakan fase penting untuk mengamati aktivitas apa yang benar-benar membuat anak merasa senang dan menikmati prosesnya.

Orang tua perlu memberi ruang bagi anak untuk mengeksplorasi, tanpa membebani mereka dengan ekspektasi yang terlalu tinggi.

"Di usia SD kita perlu memperkuat kemampuan mengobservasi bagaimana rasa suka atau enjoying anak melakukan aktivitas itu. Anak juga sering menantang emosi orang tua. Kalau kita terlalu menekan, itu justru sudah menjadi pressure buat anak," papar Anastasia, dalam sebuah video sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram @ibupedia_id, Selasa (28/7/2026).

Anastasia menuturkan, anak-anak saat ini sudah menghadapi tekanan akademik yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya.

Karena itu, kata dia, kegiatan di luar sekolah seharusnya menjadi ruang bagi mereka untuk berkembang dengan lebih menyenangkan, bukan menjadi sumber tekanan baru.

Anastasia juga menekankan pentingnya memberi kesempatan kepada anak untuk mencoba suatu aktivitas dalam waktu yang cukup.

Penolakan di awal belum tentu berarti anak tidak berbakat atau tidak menyukainya. Bisa jadi mereka masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan membangun pengalaman.

"Prinsip kepada anak adalah coba dulu saja. Bisa jadi anak menolak karena dia kurang pengalaman. Tugas kita sebagai orang tua adalah memberikan mereka pengalaman-pengalaman. Tapi proses mencoba itu mungkin membutuhkan waktu sekitar enam bulan," jelasnya.

Baca Juga: Bukan Sekadar Bermain, Eksplorasi Sejak Dini Jadi Bekal Penting Kesuksesan Anak Menurut Psikolog

Meski demikian, kata Anastasia, orang tua juga perlu peka apabila setelah menjalani aktivitas dalam waktu yang cukup lama anak tetap merasa terbebani.

Dalam kondisi tersebut, tidak ada salahnya menerima bahwa aktivitas tersebut memang bukan yang paling sesuai bagi anak.

"Kalau hampir sudah setahun rasanya berat sekali, ya sudah, mungkin kita juga butuh memperbesar hati. Mungkin ini bukan yang cocok buat anak kita dan kita bisa mencari aktivitas yang lain," katanya.

Di sisi lain, Anastasia mengingatkan agar orang tua tidak terburu-buru menghentikan suatu kegiatan hanya karena anak mengeluh setelah satu atau dua kali pertemuan.

Menurutnya, otak anak membutuhkan pengulangan dan pengalaman berulang untuk dapat benar-benar mengenali serta mengembangkan kemampuan baru.

"Saya setuju jangan langsung gampang berhenti setelah satu atau dua kali pertemuan. Otak anak itu butuh repetisi, butuh pengalaman berulang untuk mereka mencoba sesuatu," ungkap Anastasia.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa kelas atau aktivitas di luar sekolah seharusnya dimanfaatkan sebagai kesempatan bagi anak untuk mengembangkan potensi yang belum tentu dapat diasah melalui pendidikan formal.

Karena itu, kata dia, orang tua diharapkan mendampingi proses tersebut dengan sikap yang santai dan tidak semata-mata berorientasi pada prestasi.

"Gunakanlah pengalaman di kelas luar sekolah ini sebagai kesempatan anak mengembangkan diri di hal-hal yang tidak bisa berkembang di sekolah. Jadi kita juga membawanya dengan ringan dan rileks, bukan hanya mengejar juaranya," tutup Anastasia.

Baca Juga: Menyiapkan Masa Depan Anak, Ini 3 Hal yang Perlu Dipelajari Orang Tua