Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya pembenahan dan restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar perusahaan negara mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Kebijakan tersebut mendapat apresiasi dari ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti.

Dalam pidato kenegaraan di Jakarta, Jumat (14/8/2026), Prabowo menekankan bahwa pemerintah akan mempertahankan BUMN yang produktif dan mampu menciptakan nilai bagi rakyat.

“Hanya yang produktif, hanya yang menciptakan nilai tambah untuk rakyat akan kita pertahankan,” ujar Prabowo.

Baca Juga: Prabowo Buka Borok BUMN: Rugi Terus, Laporannya Untung!

Menurut Prabowo, proses pembenahan BUMN yang telah dilakukan pemerintah melalui Danantara Indonesia sejauh ini telah menghasilkan penghematan biaya overhead sekitar Rp50 triliun. Pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat menjadi lebih dari Rp70 triliun hingga akhir 2026.

Esther menilai langkah transformasi dan perampingan BUMN mulai menunjukkan hasil positif. Salah satu indikatornya terlihat dari kinerja gabungan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang mencatat laba Rp39,92 triliun pada kuartal I 2026.

Baca Juga: Menakar Urgensi Streamlining BUMN Transportasi untuk Perkuat Layanan Publik dan Efisiensi Logistik

“Capaian ini dapat dilihat sebagai salah satu indikator awal bahwa penguatan tata kelola, efisiensi, dan optimalisasi aset di lingkungan BUMN mulai memberikan dampak terhadap kinerja perusahaan,” ujar Esther.

Menurut dia, kinerja positif sektor perbankan dapat menjadi acuan bagi Danantara untuk melanjutkan transformasi ke sektor BUMN lainnya. Salah satu caranya melalui klasterisasi dan restrukturisasi secara bertahap.

Esther menilai perusahaan negara yang bergerak di sektor serupa dapat dikonsolidasikan untuk menciptakan skala usaha yang lebih besar, meningkatkan efisiensi, sekaligus memperkuat daya saing.

“Ketiga peran BUMN harus berjalan semua. Tentu saja ini sangat berat, maka harus dilakukan bertahap. Caranya dengan klasterisasi BUMN kemudian melakukan restrukturisasi. BUMN yang sakit kalau bisa diobati maka dimerger dengan BUMN sejenis,” katanya.

Ia menilai pendekatan tersebut penting agar aset negara tidak hanya dipertahankan keberadaannya, tetapi juga mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.

Baca Juga: Prabowo Bongkar 'Kebocoran' Biaya BUMN: Gaji Direksi, Komisaris hingga Rapat-Rapat

Setelah proses holding dan konsolidasi, BUMN dapat diarahkan untuk memperkuat fundamental bisnis, meningkatkan efisiensi, dan memperbaiki kinerja perusahaan.

Esther mencontohkan konsolidasi sektor perbankan sebagai salah satu pola yang dapat diterapkan pada sektor BUMN lainnya.

Menurutnya, model tersebut dapat direplikasi, antara lain, pada BUMN yang bergerak di sektor pupuk dan semen.

“Keberhasilan BUMN sektor perbankan bisa ditiru untuk perbaikan BUMN lainnya dengan membuat holding-holding BUMN, misalnya BUMN Pupuk Indonesia dan BUMN Semen Indonesia. Setelah di-holding-kan kemudian disehatkan,” ujarnya.

Meski demikian, Esther mengingatkan bahwa transformasi BUMN tidak berhenti pada penggabungan perusahaan. Setelah restrukturisasi dilakukan, perusahaan tetap perlu menjaga kinerja agar mampu beradaptasi dengan perubahan industri.

Khusus sektor perbankan, ia menilai digitalisasi, prinsip kehati-hatian, manajemen risiko, dan efisiensi menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan.

Di sisi lain, kemampuan beradaptasi tersebut juga harus dibarengi dengan upaya mempertahankan kepercayaan masyarakat. Dengan begitu, transformasi BUMN tidak hanya menghasilkan perusahaan yang lebih ramping, tetapi juga semakin sehat dan produktif.