Tokoh perempuan adat dan pejuang lingkungan asal Merauke Yasinta Moiwend membetot perhatian publik setelah menyatakan keberatan atas keterlibatannya dalam film dokumenter Pesta Babi.
Mama Sinta sapaan Yasinta Moiwend mengaku menjadi korban eksploitasi sebab keterlibatannya dalam film dokumenter yang mengungkap dampak Proyek strategis nasional (PSN) di Papua dilakukan tanpa sepengetahuan dirinya. LBH Papua Merauke menjadi salah satu pihak yang kini telah dipolisikan Mama Yasinta.
Baca Juga: Gonjang Ganjing Film Pesta Babi, Sakit Hati Mama Yasinta Moiwend Berujung Laporan Polisi
Terkait perubahan sikap Mama Sinta itu, Tim kolaborasi film dokumenter Pesta Babi mengaku menghormati hal tersebut. Mereka meminta publik untuk tidak menghakimi perempuan paruh baya itu.
“Kami tim kolaborasi film Pesta Babi menghormati apa pun sikap Mama Yasinta saat ini, dan meminta publik untuk tidak menyudutkan atau menghakimi beliau, sembari kami masih berusaha memahami apa yang terjadi dengan perubahan pilihan sikap ini,” demikian pernyataan tim kolaborasi dalam siaran persnya Minggu (31/6/2026).
Tim kolaborasi film Pesta Babi saat ini sedang berupaya untuk mendiskusikan hal ini dengan Mama Sinta, tim kolaborasi juga sedang berupaya menghubungi keluarga Mama Sinta untuk mengetahui apa yang sebenarnya melatarbelakangi perubahan sikap itu.
“Kami terus berusaha membangun komunikasi dengan Mama Yasinta dan berkoordinasi dengan keluarganya,” lanjut keterangan tersebut.
Adapun tim kolaborasi film Pesta Babi terdiri dari Ekspedisi Indonesia Baru, Greenpeace Indonesia, Jubi Media, LBH Papua Merauke, Pusaka Bentala Rakyat dan Watchdoc.
Dalam video pernyataan pada pekan lalu, Mama Yasinta Moiwend mengatakan tidak lagi bergabung dengan LBH Papu Merauke. Ia telah mengambil keputusan sendiri, dan akan mencari pekerjaan di perusahaan
“Cari pekerjaan, karena rumah saya ingin direhab karena sudah tidak layak lagi,” kata Mama Yasinta Moiwend dalam rekaman video yang beredar.
Selain itu menurutnya, ketiga anaknya juga butuh pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Ia pun menyatakan kini berada di pihak perusahaan. Tidak seperti sikapnya sebelumnya yang menentang keberadaan perusahaan.
“Dulu itu saya dimanfaatkan, saya diajak oleh orang-orang LBH,” ucapnya.
Setelah pernyataannya itu, Mama Sinta membuat laporan di Polda Metro Jaya, Jumat (29/5/2026).
Ia melaporkan Direktur LBH Papua Merauke, TW karena aktivitasnya yang direkam dalam film Pesta Babi diambil tanpa seizin dirinya, dan film itu diputar tanpa izinnya. Karenanya, ia meminta pemutaran film itu dihentikan.
Baca Juga: Siapa Dandhy Laksono Sosok di Balik Film Pesta Babi?
“Saya punya wajah ini di mana-mana mereka putar film itu, saya sakit hati. Tanpa izin dari saya. Maka itu saya datang ke Jakarta. Mulai dari hari ini [pemutaran film itu] dihentikan. Seandainya ada yang putar film itu, tolong proses orang itu,” ujar Mama Yasinta Moiwend.