Sementara itu, Ketua Tim Pembinaan Komunikasi Publik Daerah Komdigi, Dimas Aditya Nugraha, menyoroti masih beragamnya kemampuan masyarakat Indonesia dalam mengenali informasi palsu.

"Mayoritas orang Indonesia ketika dapat informasi yang bersifat hoaks, kemampuan identifikasinya itu beragam. Sekitar 7% sangat yakin dengan informasi tersebut, 25% yakin, dan 45% bimbang antara yakin dan tidak yakin. Jadi sangat penting bagi kita melakukan saring sebelum sharing agar terhindar dari praktik manipulasi informasi," ungkap Dimas.

Pada kesemoatan yang sama, Senior Product Marketing Specialist PINTU, Reyner Jonathan, pun membagikan sejumlah langkah sederhana agar masyarakat terhindar dari berbagai modus penipuan digital yang kini banyak memanfaatkan teknologi AI.

"Banyak sekali penipuan yang menggunakan AI yang juga menyasar kalangan ibu-ibu. Pertama jika mendapatkan informasi yang belum jelas sumbernya, tanamkan sifat tidak mudah percaya, kedua jangan panik, ketiga cek sumbernya, lihat nomornya, jika mengatasnamakan institusi tertentu bisa dicek dulu ini benar nomor resminya atau bukan, dan jangan klik link sembarang maupun link phishing," ujar Reyner.

Ia juga menekankan bahwa AI tidak hanya dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan, tetapi juga dapat menjadi alat yang membantu aktivitas sehari-hari apabila digunakan secara bijak.

"AI juga memiliki banyak manfaat bisa dipergunakan untuk hal yang positif. Misalnya bagi ibu-ibu yang suka masak bisa bertanya resep masakan, atau bagi yang sedang mencari barang tertentu dan ingin melakukan komparasi produknya, bisa menggunakan AI. Terakhir bisa mendukung untuk berjualan, seperti membuatkan caption untuk media sosial, menghitung pembukuan, dan lain-lainnya. Jadi AI ini hanya alat yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif," katanya.

Pemanfaatan AI di Indonesia sendiri terus meningkat. Berdasarkan laporan Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 dari PwC Indonesia, sebanyak 69 persen pekerja Indonesia yang disurvei mengaku telah menggunakan AI dalam pekerjaannya selama setahun terakhir untuk meningkatkan produktivitas.

Di sisi lain, Komdigi mencatat kerugian akibat penipuan digital di Indonesia diperkirakan telah mencapai sekitar Rp7,5 triliun.

Menutup kegiatan tersebut, Reyner kemudian menegaskan bahwa komitmen PINTU untuk terus mendukung berbagai program literasi digital agar masyarakat semakin siap menghadapi tantangan di era teknologi.

"Kami memiliki komitmen untuk mendukung program edukasi dan literasi bagi masyarakat agar masyarakat bisa lebih waspada terhadap segala bentuk tindak kejahatan berbasis digital serta mampu memanfaatkan kemajuan teknologi untuk kehidupan yang lebih baik. Kami mengapresiasi Universitas Paramadina yang telah menggagas kegiatan ini yang diharapkan bisa meningkatkan pemahaman lebih dalam mengenai bahaya hoaks dan penipuan digital," tutup Reyner.

Baca Juga: Rayakan Anniversary ke-6, PINTU Gelar Campaign #SixcessfulYear dan Catat Pertumbuhan Signifikan