Ia pun mengatakan, anak-anak muda di negara-negara Skandinavia yang memiliki kebiasaan membaca buku cenderung memiliki daya ingat yang kuat dibandingkan yang membaca buku elektronik (e-book).

“Tidak mengherankan di sejumlah negara sekarang kembali lagi ke buku cetak ya. Contohnya, negara-negara Skandinavia. Anak-anak (yang membaca buku digital) cenderung tidak mempunyai daya ingat yang kuat seperti generasi sebelumnya karena terlalu cepat pakai gadget,” ujar Rhenald.

Kemudian, Rhenald pun mengisahkan saat dirinya memberikan evaluasi di beberapa pelatihan. Saat itu, Rhenald sengaja memberikan formulir untuk diisi para peserta pelatihan tersebut.

Namun sayangnya, kata dia, justru sebagian besar peserta pelatihan tersebut memintanya untuk memberikan formulir dalam format digital.

“Saya kemarin beberapa kali memberikan evaluasi dari beberapa pelatihan saya minta saya bagikan formulir. Saya mintatolong isi ini evaluasinya dengan tulis tangan. Namun ternyata sebagian besar minta diberikan digital copy-nya,” ujar Rhenald.

“Saya tanya kenapa? Kami tidak biasa pak menulis tangan. Jadi biasanya pakai gadget. Jadi saya rasa kemampuan menulis tangan saat ini memang sudah digantikan oleh gadget,” sambung Rhenald.

Terkait hal itu, lagi-lagi, pria kelahiran 13 Agustus 1960 ini pun berharap generasi muda saat ini agar lebih menggiatkan kembali budaya menulis tangan dan membaca buku cetak. Ia pun berharap, kebiasaan tersebut dapat kembali tumbuh di Indonesia.

“Meski budaya menulis kian digantikan oleh teknologi, bagi saya tulisan tangan tidak akan tergantikan. Menulis dengan tangan juga dapat menumbuhkan kemampuan literasi yang nantinya membantu seseorang menjadi pemikir kritis, pemecah masalah, dan pengguna bahasa yang cerdas,” tandasnya.

Baca Juga: Rhenald Kasali Soal Fenomena Mencari Tempat Parkir di Dekat Pintu Masuk