Bank Indonesia (BI) memberikan pernyataan terbaru mengenai nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik. Dalam pernyataan resminya, BI mengatakan bahwa nilai tukar rupiah bergerak dalam tren penguatan dan kembali ke bawah level Rp18.000 per dolar AS. Adapun hingga Jumat (12/6/2026) pagi, rupiah bergerak di kisaran level Rp17.930 per dolar AS.

"Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami penguatan dan kembali berada di bawah level Rp18.000 per dolar AS," ungkap Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Jumat (12/6/2026).

Baca Juga: Menkeu Purbaya Optimis Rupiah Menguat Mulai Juli, Bergerak Stabil di Rp16.800 pada Tahun 2027

Denny menjelaskan, penguatan rupiah tersebut didukung oleh perkembangan positif di pasar keuangan domestik, khususnya terkait penguatan bauran kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. 

Ia menyebut, pasca kenaikan BI-Rate menjadi 5,50% serta penguatan imbal hasil SRBI dan SBN, investor asing merespons positif penguatan bauran kebijakan tersebut. Hal itu tercermin dari dari meningkatnya aliran masuk modal asing ke instrumen SRBI pasca lelang SRBI pada 10 Juni 2026.

Baca Juga: Ketika BI Rate Naik Jadi 5,50% Tiba-Tiba: Rupiah Perkasa, Kredit Perbankan dan Bunga Utang Bikin Waspada

"Aliran masuk modal asing juga mulai kembali terjadi di pasar SBN, terutama pada tenor pendek dan menengah," tambahnya.

Lebih lanjut, BI berkomitmen untuk terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik. BI pun terus berupaya untuk menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik guna mendukung aliran masuk modal asing. 

"Bank Indonesia juga akan terus mengoptimalkan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah melalui intervensi NDF di pasar offshore serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik secara konsisten dan terukur," tutupnya.