Board of Director PT Kalbe Farma Tbk 2015-2021, Djonny Hartono punya sejumlah kiat menghadapi karyawan oportunis.
Karyawan penjilat memang cenderung ada di setiap perusahaan, keberadaan mereka bisa menjadi penyebab utama mandeknya visi misi organisasi.
Menghadapi pegawai dengan karakter demikian, kata Djonny seorang leader perusahaan mesti bisa mengukur performa seluruh kerja karyawannya secara transparan dengan menetapkan Key Performance Indicator atau bahasa Indikator Kinerja Utama (KPI) yang dievaluasi setiap bulan.
“Kalau organisasi yang istilahnya tuh modern, pasti transparan ya kan. Transparan bahwa semua orang itu diukur dengan KPI. Ada targetnya, ada KPI, kemudian lakukan evaluasi secara transparan, secara terbuka gitu kan,” kata Djoni saat berbincang dengan Olenka.id ditulis Senin (8/6/2026).
“Sehingga orang bisa melihat bahwa orang ini betul-betul punya kapabilitas nggak gitu ya. Karena kalau orang penjilat, biasanya dia hanya membangun persepsi gitu kan. Hanya membangun persepsi, memperkuat relasi,” tambahnya.
Dengan penetapan KPI yang jelas, karyawan penjilat tidak bisa mengelak ketika atas seluruh kinerjanya. Djonny menyatakan, kecenderungan menjadi penjilat biasanya datang dari ketidakmampuan, ini semacam jalan pintas bagi mereka untuk mengamankan karir mereka dalam perusahaan.
“Jadi umumnya kenapa dia melakukan itu? Karena dia tidak punya kompetensi atau minim kompetensi. Maka berikan target, KPI kemudian evaluasi secara transparan dengan begitu orang melihat gitu. Ini orang bener-bener nggak sih punya kompetensi? Kalau nggak punya kompetensi orang ngelihat,” ujarnya.
Meski demikian, menghadapi karyawan yang seperti itu tentu tidak hanya berpatokan pada KPI semata. Peraturan ini tak bakal berjalan mulus jika atasannya sendiri adalah tipikal pribadi narsisme atau yang haus validasi.
Sialnya leader seperti ini kerap kali memandang para penjilat sebagai loyalis, kondisi ini membuat organisasi perusahaan berjalan pincang, penjilat mendapat tempat sementara karyawan dengan kinerja jempolan justru terabaikan imbasnya organisasi perusahaan berjalan tanpa adanya asas keadilan.
“Nah, kalau dia (leader) hanya memanfaatkan tadi anggota tim yang suka menjilat, ya berarti dia tidak komit terhadap apa yang ingin dicapai. Karena sebetulnya ada anggota tim yang lain yang sebetulnya bisa memberikan kontribusi, memberikan feedback terhadap arah organisasi. Menjilat itu, ya ini tentu terminologinya negatif gitu ya,” ucapnya.
Baca Juga: Ngawurnya Implementasi MBG Era Dadan Hindayana, Apa Penyebabnya?
“Ketika leader tidak bisa mengidentifikasi itu, dia akan memberikan privilege kepada orang tersebut gitu ya. Akibatnya apa? Akibatnya organisasi akan kehilangan arah. Dan muncul ketidakpuasan, ketidakadilan diantara anggota tim gitu ya,” tambahnya memungkasi.