Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menjadi sorotan publik usai menegur seorang pegawai yang diduga tidak fokus mengikuti rapat koordinasi nasional secara daring karena bermain telepon genggam. Teguran tersebut disampaikan langsung dalam rapat yang digelar melalui Zoom dan videonya kemudian beredar luas di media sosial.

Dalam video yang beredar pada Kamis (30/7/2026), Sudaryono tengah memberikan arahan kepada jajaran BGN ketika menyoroti salah seorang peserta rapat yang dinilai tidak memperhatikan jalannya pembahasan.

Pegawai tersebut diketahui bernama Adi Afrianto yang menjabat sebagai Koordinator Wilayah (Korwil) BGN Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Baca Juga: Audit Kejagung Sebut Pemborosan Anggaran MBG Tembus Rp10,5 Triliun, Sudaryono Ogah Berkomentar

"Ini ada Korwil Kabupaten Kayong Utara namanya Adi Afrianto. Saya kasih penjelasan, dia main handphone itu," ujar Sudaryono dalam rapat tersebut.

Tak lama setelah memberikan teguran, Sudaryono meminta Kepala Biro Sumber Daya Manusia (SDM) BGN untuk mencatat nama pegawai yang dimaksud dan memproses pemindahannya ke Papua.

"Karo SDM, tolong dicatat Korwil Kabupaten Kayong Utara Adi Afrianto. Saya minta yang bersangkutan dipindah ke Papua segera," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Sudaryono juga meminta jajarannya melakukan evaluasi terhadap peserta rapat yang dinilai tidak mengikuti pertemuan dengan serius. Ia menyinggung kemungkinan adanya pegawai yang hanya melakukan absensi tanpa benar-benar menyimak jalannya rapat.

Baca Juga: Bersih-bersih, Sudaryono Pecat 261 Pegawai BGN yang Langgar Aturan

Menurutnya, pegawai yang terbukti tidak disiplin harus diberikan surat teguran sebagai peringatan awal. Sudaryono menegaskan bahwa sanksi yang lebih berat dapat dijatuhkan apabila pelanggaran dilakukan secara berulang.

"Tolong diberi surat teguran, surat peringatan satu. Tiga kali surat peringatan, pecat. Tolong diperhatikan. Saya tidak segan-segan. Saya tidak ada urusan sama Anda semua," tegasnya.

Sudaryono menilai kedisiplinan aparatur di lingkungan Badan Gizi Nasional merupakan salah satu faktor penting untuk memastikan berbagai program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dapat berjalan secara optimal.

Namun, pernyataan mengenai pemindahan pegawai ke Papua justru menuai beragam tanggapan dari warganet. Sejumlah netizen mempertanyakan alasan Papua dijadikan lokasi pemindahan dan menilai pernyataan tersebut dapat memunculkan stigma negatif terhadap wilayah Indonesia bagian timur.

Di kolom komentar akun Instagram @pontianakpost, beberapa warganet menyampaikan kritik mereka.

Baca Juga: Ngakunya Gak Punya SPPG, Sudaryono Justru Klaim Paling Paham MBG: Saya Ikut dari Awal

"Kenapa harus ke Papua Pak? Kalau semua yang tidak kompeten dilempar ke Papua, kapan majunya wilayah timur???!!" tulis seorang netizen.

Komentar serupa juga datang dari pengguna lainnya yang mempertanyakan persepsi terhadap Papua.

"Papua itu tanah pembuangan kah???" tulis netizen lainnya.

Sementara itu, seorang pengguna lain menulis singkat:

"Papua seburuk itu kah?"

Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan lanjutan dari Sudaryono maupun Badan Gizi Nasional terkait respons publik atas perintah pemindahan tersebut.

Video teguran tersebut masih menjadi perbincangan di media sosial dan memicu diskusi mengenai pentingnya penegakan disiplin aparatur, sekaligus sensitivitas dalam penyebutan wilayah tertentu sebagai bentuk sanksi atau penugasan.