Penulis kondang Tere Liye mengkritik keras Presiden Prabowo Subianto yang kembali membanggkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam pidatonya di KTT BRICS. Dalam pidatonya Prabowo mengklaim MBG adalah langkah membangun bangsa mandiri.
Tere mengatakan, Prabowo seharusnya malu ketika memamerkan program tersebut kepada negara-negara yang sebenarnya sudah terlebih dahulu menerapkan program yang sama dan sukses besar menggarapnya, kesuksesan besar negara anggota BRICS menjalankan program itu kontras dengan apa yang terjadi di Indonesia, implementasi MBG amburadul, tata kelolanya tidak jelas.
Baca Juga: Yang Ngomong Pak Mahfud, Sudaryono Tolong Pasang Kuping Baik-Baik: Anda Gagal Urus MBG!
“India, mulai sejak 1995, secara nasional. Namanya PM POSHAN. Berapa jumlah penerimanya? 120 juta anak sekolah. Nyaris semua anak dikasih. China, mulai sejak 2011, dengan jumlah penerima 40 juta. Namanya Yíngyǎng Cān. Selektif. Pedalaman dan desa tertinggal. Di kota-kota besar dan maju, program makan siangnya mandiri,” kata Tere dilansir Olenka.id Senin (14/9/2026)
“Brasil, sejak 1955, namanya PNAE. Penerima 40 juta. Juga hampir semua anak dikasih. Afrika Selatan, sejak 1994, namanya NSNP, penerimanya 9 juta. Selektif anak-anak dari keluarga miskin,” tambahnya.
Tere mengatakan, ketimbang berbicara panjang lebar mengenai segala keunggulan MBG, Prabowo seharusnya blak-blakan dalam forum itu membuka data-data korupsi MBG hingga data keracunan massal yang masih marak sampai sekarang.
"Entahlah, apa poinnya membangga-banggakan MBG ini ke negara-negara lain yang jelas-jelas sudah lama melakukannya. Kecuali elu mau membanggakan: betapa korupnya MBG di sini, puluhan ribu anak keracunan, makanan seupil entah apa gizinya. Yayasan Polisi dan Tentara sejahtera banget dengan kocoran duit triliunan. Yes, yang satu ini kok nggak dibahas di BRICS?" Tegasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bangsa yang tangguh dan mandiri berawal dari pemenuhan kebutuhan dasar rakyat.
Hal itu disampaikannya saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026).
KTT yang dihadiri PM India Narendra Modi, Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan para pemimpin negara Global South lainnya itu membahas penguatan kerja sama dan suara negara-negara selatan.
Dalam sesi terbatas, Prabowo mengawali pidatonya dengan mengingatkan pentingnya persatuan negara-negara belahan bumi selatan. Ia mencontohkan Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 yang membuat suara negara-negara baru merdeka didengar dunia.
"Suara Indonesia di belahan bumi selatan kini didengar setelah KAA 1955. Negara-negara yang saat itu baru meraih kemerdekaan bersatu sebagai mitra setara. Dengan bersatu, suara kami terdengar lebih luas," kata Prabowo.
"Kepentingan kami dapat lebih terlindungi dan diperjuangkan. Pelajaran ini tetap sangat penting. Dengan bersatu, kami juga menjadi lebih kuat," lanjutnya.
Prabowo menekankan, kekuatan suatu bangsa selalu berawal dari kondisi di dalam negeri. Negara harus mampu memberi makan, energi, pendidikan, dan kesejahteraan kepada rakyatnya.
"Kekuatan selalu berawal dari rumah, dari rakyat kita, dari kemampuan kita untuk memberi makan rakyat kita, untuk menyediakan energi yang mereka butuhkan, untuk mendidik anak-anak kita, dan untuk memberi mereka kesempatan untuk sejahtera. Itulah cara kita membangun bangsa yang tangguh dan benar-benar mandiri," ujarnya.
Ia juga menegaskan Indonesia tidak ingin didikte oleh satu atau dua kekuatan mana pun. Menurutnya, ketangguhan dalam negeri adalah fondasi untuk menjaga perdamaian dan membangun kepercayaan.
"Dengan fondasi yang begitu kuat, saya yakin BRICS akan terus memperkuat kerja sama di bidang-bidang yang berdampak langsung pada ketangguhan kita," kata Prabowo.
Baca Juga: Keracunan MBG di SMA Berastagi, Dokter Ungkap Temuan Bakteri hingga Risiko Gagal Ginjal
Salah satu contoh kerja sama konkret yang disebut Prabowo adalah di sektor energi. Indonesia, kata dia, tengah mendorong konektivitas sistem energi dan memperkuat ketahanan energi di kawasan.
"Kami sedang menghubungkan sistem energi dan memperkuat ketahanan energi di seluruh kawasan kami untuk menggerakkan ekonomi serta membangun ketangguhan jangka panjang," imbuhnya.