Eks Menko Polhukam sekaligus Pakar Hukum Tata Negara, Mahfud MD turut menyoroti pidato kontroversial Presiden Prabowo Subianto yang baru-baru ini menyerang para pengamat dan pakar yang kerap mengkritik kebijakan pemerintah dengan kata-kata kasar ‘pakar goblok’
Mahfud mengakui tidak semua yang bergelar pakar itu pandai, bahkan banyak juga yang bergelar profesor yang nyatanya tidak bisa perform. Banyak argumen mereka yang mudah dipatahkan karena lembah dan tak berdasar.
“Ya memang saya percaya juga, banyak pakar. Banyak profesor yang tidak perform. Lemah sebagai pakar,” kata Mahfud dilansir Olenka.id Rabu (23/9/2026).
Mahfud mengaku setuju dengan pernyataan Prabowo bernada umpatan itu, namun kata dia seharusnya kepala negara menyebutnya secara spesifik sebab tidak semua pakar bodoh sebagaimana yang dikatakan Prabowo.
“Kan ada 1.500 lebih profesor. Coba siapa pakarnya? Jadi bahwa ada profesor di bawah standar yang oleh Pak Prabowo itu disebut goblok, itu ya pasti ada,” ucapnya.
Soal pintar atau tidaknya seorang profesor atau pakar, kata Mahfud tidak bisa diukur dari nilai atau gelar akademis saja, berbagai keputusan dan tindakan mereka juga mencerminkan tingkat intelektual mereka, misalnya saja profesor yang mau berbicara sesuatu hanya karena dipesan kelompok tertentu.
“Apalagi zaman sekarang ya, kayak profesor bisa beli. Bisa pesan. Bisa nego. Bisa kasi bantuan dapat,” ujarnya.
Sama halnya dengan para pakar ada yang pandai dan ada yang kurang pintar, Mahfud mengatakan, Presiden juga demikian tak semuanya pintar, ada yang cerdas ada pula yang kurang cerdas.
“Tetapi tentu tidak semua profesor. Seperti halnya presiden juga banyak yang goblok. Iya kan? Banyak yang goblok juga,” terangnya.
Mahfud memberi contoh presiden yang dianggapnya goblok. Yakni Idi Amin, mantan Presiden Uganda.
“Banyak profesor goblok. Banyak juga presidennya goblok gitu. Tahu contohnya? Idiamin misalnya, kan presiden juga itu,” imbuhnya.
“Tapi soal Prabowo kalau mau membanding-bandingkan, menurut saya Prabowo itu memang pandai, tidak goblok,” pungkasnya.
Adapun pernyataan kontroversial itu disampaikan Prabowo dalam pidatonya di Perayaan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (18/9/2026).
Prabowo mulanya menyebut keinginan melihat Indonesia sejahtera adalah sumpah pribadinya.
"Saya bersumpah ingin melihat Indonesia sejahtera, itu sumpah saya," kata Prabowo.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyentil sejumlah pakar yang kerap mengkritik kebijakan pemerintah.
"Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya jadi goblok," sindirnya.
Ia menilai, kritik yang disampaikan para pakar tersebut kerap tidak sejalan dengan realitas yang dihadapi di lapangan.
Menurut Prabowo, berbicara di tengah kawan-kawan sejati membuatnya lebih leluasa menyampaikan gagasan tanpa harus khawatir dipelintir.
"Ini masalahnya kalau bicara di tengah kawan-kawan sejati. Nanti yang diulang-ulangi itu tadi itu," pungkasnya