Dira menilai, masyarakat tidak perlu langsung mempertanyakan perilaku anak atau memberikan komentar kepada orang tua.

Sebab, ketika orang tua sudah membawa anak ke suatu tempat, biasanya mereka telah mempertimbangkan kondisi anak dan mengetahui apa yang perlu dilakukan apabila muncul situasi tertentu.

“Jangan usah tanya-tanya, ‘Kenapa dia tuh gitu?’ Mungkin aku aja yang selesain. Aku cuma berharap ya, tenang aja, karena kita juga berusaha. Kalau kita sudah berani ke tempat A, kita juga sudah tahu apa yang harus dilakukan. Jadi kayaknya mendingan tinggal awareness dulu,” ujar Dira.

Selain penerimaan di ruang publik, Dira berharap, anak-anak neurodivergent ke depan mendapatkan lingkungan yang mampu memahami kebutuhan serta potensi mereka secara lebih detail.

Harapan tersebut juga berkaitan erat dengan tujuan jangka panjang, yakni memastikan anak neurodivergent dapat menjalani kehidupan yang semakin mandiri.

Untuk mewujudkannya, Dira menilai, perubahan tidak bisa hanya dibebankan kepada orang tua. Masyarakat dan berbagai institusi juga perlu mulai memahami neurodiversitas dan menciptakan lingkungan yang lebih siap menerima keberagaman tersebut.

Ia juga berharap, semakin banyak tempat yang memiliki kesiapan untuk menerima dan menangani kebutuhan anak neurodivergent.

Hal ini penting karena keberadaan anak neurodivergent bukanlah fenomena yang akan hilang, sehingga masyarakat perlu membangun sistem yang memungkinkan mereka hidup berdampingan secara setara.

“Neurodiversitas itu tidak akan berkurang. Anak-anak neurodivergent itu tidak akan berkurang. Jadi sebenarnya kita tuh enggak ada pilihan lain selain kita harus bisa hidup berdampingan,” tegas Dira.

Baca Juga: Founder Atelier of Minds: Orang Tua Anak Neurodivergent Tidak Seharusnya Menjalani Perjuangan Sendirian