Membangun lingkungan yang lebih inklusif bagi anak neurodivergent membutuhkan perubahan tidak hanya dalam sistem pendidikan, tetapi juga dalam cara masyarakat memahami dan merespons perbedaan.
Bagi Nadira Saraswati, Founder Komunitas Berspektrum sekaligus orang tua anak neurodivergent, peningkatan awareness dan empati menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar yang perlu segera dilakukan.
Menurut Dira, sapaan Nadira Saraswati, masih banyak masyarakat yang belum memahami kondisi anak neurodivergent. Kurangnya pemahaman tersebut terkadang membuat orang tua merasa harus memberikan penjelasan ketika anak menunjukkan perilaku yang dianggap berbeda di ruang publik.
“Kalau aku mewakili ibu-ibu, kita tuh mikirnya ini untuk ke depan masih banyak kayaknya ya. PR masih banyak, karena to the level of awareness, itu masih banyak banget yang belum tahu, belum aware, dan empatinya belum ada,” beber Dira, saat Media Briefing ‘Suara Orang Tua: Realita Pengasuhan Anak Neurodivergent di Indonesia’, yang digelar di Atelier of Minds, Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).
Dira pun berharap, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, masyarakat semakin terbiasa melihat anak-anak dengan karakter dan kebutuhan yang beragam.
Menurutnya, anak neurodivergent dan keluarganya juga memiliki keinginan yang sama untuk menikmati ruang publik seperti keluarga lainnya, mulai dari mal, kafe hingga pasar.
Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak buru-buru memberikan penilaian ketika melihat anak menunjukkan perilaku yang berbeda, seperti mengeluarkan suara tertentu atau melakukan gerakan berulang.
Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari kebutuhan anak dan orang tua sebenarnya sudah memahami cara menghadapinya.
“Kita juga pengen nongkrong cantik sama anak. Cuma kayaknya kan dengan perlu agak adjustment gitu ya. Kayak, wah, ya sudah pasti agak mengeluarkan bunyi-bunyi, agak aneh mulutnya, agak perlu gerakan-gerakan yang berulang setiap saat itu, ya biarkan aja,” katanya.
Baca Juga: Psikolog Ungkap Bekal Penting Anak Neurodivergent Menuju Kemandirian
Dira menilai, masyarakat tidak perlu langsung mempertanyakan perilaku anak atau memberikan komentar kepada orang tua.
Sebab, ketika orang tua sudah membawa anak ke suatu tempat, biasanya mereka telah mempertimbangkan kondisi anak dan mengetahui apa yang perlu dilakukan apabila muncul situasi tertentu.
“Jangan usah tanya-tanya, ‘Kenapa dia tuh gitu?’ Mungkin aku aja yang selesain. Aku cuma berharap ya, tenang aja, karena kita juga berusaha. Kalau kita sudah berani ke tempat A, kita juga sudah tahu apa yang harus dilakukan. Jadi kayaknya mendingan tinggal awareness dulu,” ujar Dira.
Selain penerimaan di ruang publik, Dira berharap, anak-anak neurodivergent ke depan mendapatkan lingkungan yang mampu memahami kebutuhan serta potensi mereka secara lebih detail.
Harapan tersebut juga berkaitan erat dengan tujuan jangka panjang, yakni memastikan anak neurodivergent dapat menjalani kehidupan yang semakin mandiri.
Untuk mewujudkannya, Dira menilai, perubahan tidak bisa hanya dibebankan kepada orang tua. Masyarakat dan berbagai institusi juga perlu mulai memahami neurodiversitas dan menciptakan lingkungan yang lebih siap menerima keberagaman tersebut.
Ia juga berharap, semakin banyak tempat yang memiliki kesiapan untuk menerima dan menangani kebutuhan anak neurodivergent.
Hal ini penting karena keberadaan anak neurodivergent bukanlah fenomena yang akan hilang, sehingga masyarakat perlu membangun sistem yang memungkinkan mereka hidup berdampingan secara setara.
“Neurodiversitas itu tidak akan berkurang. Anak-anak neurodivergent itu tidak akan berkurang. Jadi sebenarnya kita tuh enggak ada pilihan lain selain kita harus bisa hidup berdampingan,” tegas Dira.