Upaya menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi remaja terus menjadi perhatian berbagai pihak. Menyambut momentum Hari Keluarga Internasional, Meta Indonesia menggelar diskusi bertajuk “Cerdas Digital 2026: Anak Remaja Aman, Orang Tua Tenang” bersama Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia dan ECPAT Indonesia.

Acara ini melibatkan orang tua, kreator, hingga pemangku kepentingan lainnya untuk membahas pentingnya keamanan digital bagi remaja.

Dalam kesempatan tersebut, Meta juga mengumumkan pembaruan fitur Akun Remaja Instagram melalui pengaturan konten bawaan yang terinspirasi dari klasifikasi usia film 13+.

Pembaruan ini dirancang agar pengalaman online remaja menjadi lebih aman, sehat, dan sesuai usia, sekaligus membantu orang tua merasa lebih tenang saat anak menggunakan media sosial.

Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar menegaskan bahwa perlindungan anak di ruang digital membutuhkan kerja sama lintas sektor.

“Apresiasi kami sampaikan atas langkah Meta yang mulai memperkuat perlindungan remaja di ruang digital melalui pengaturan konten berbasis usia. Upaya seperti ini menunjukkan bahwa perlindungan anak di ruang digital membutuhkan kolaborasi nyata antara pemerintah, platform, orang tua, dan masyarakat,” terang Alexander Sabar, dikutip Minggu (24/5/2026).

“Kami berharap langkah ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan seluruh Penyelenggara Sistem Elektronik untuk menghadirkan ruang digital yang lebih aman, sehat, dan sesuai usia bagi anak Indonesia,” lanjut Alexander.

Di kesempatan yang sama, Kepala Kebijakan Publik Meta di Indonesia, Berni Moestafa, mengatakan pembaruan fitur Akun Remaja hadir berdasarkan masukan para orang tua dan kebutuhan remaja Indonesia dalam menggunakan media sosial secara lebih aman.

“Kami ingin membantu orang tua merasa lebih tenang saat remaja menggunakan media sosial melalui pengalaman online yang lebih aman dan sesuai usia. Kami memperbarui Akun Remaja Instagram dengan pengaturan yang terinspirasi dari klasifikasi usia film 13+ dan masukan dari orang tua untuk membantu remaja Indonesia mendapat pengalaman konten yang lebih sesuai usia di Instagram,” kata Berni Moestafa.

Melalui pembaruan ini, Meta memperluas perlindungan terhadap remaja dengan membatasi berbagai jenis konten yang dianggap tidak sesuai usia.

Selain tetap menyaring konten seksual sugestif, gambar grafis mengganggu, hingga promosi rokok dan alkohol, kini sistem juga membatasi unggahan dengan bahasa kasar, aksi berbahaya, serta konten yang berpotensi mendorong perilaku berisiko.

Teknologi perlindungan tersebut diterapkan lebih luas di Instagram dan Facebook, termasuk pada fitur pencarian, pengalaman konten, akun, hingga layanan AI.

Pada fitur akun, remaja tidak dapat mengikuti maupun berinteraksi dengan akun yang rutin membagikan konten tidak sesuai usia. Akun-akun tersebut juga tidak bisa menghubungi remaja melalui direct message, mengikuti profil mereka, ataupun berinteraksi di kolom komentar.

Baca Juga: Kisah Aghnina Wahdini Bangkitkan Kembali Permainan Tradisional Anak-anak Lewat Platform Meta

Sementara pada fitur pencarian, Meta memperluas pembatasan terhadap kata kunci sensitif dan dewasa, termasuk kata yang disamarkan atau sengaja salah eja.

Konten yang melanggar pedoman usia juga tidak akan muncul di Explore, Reels, Feed, Stories, komentar, maupun tautan yang dibagikan melalui DM, termasuk jika berasal dari akun yang diikuti remaja.

Meta juga memperbarui pengalaman AI untuk pengguna remaja agar respons yang diberikan tetap relevan dan sesuai bagi usia 13 tahun ke atas.

Tak hanya untuk remaja, Meta juga menghadirkan fitur tambahan bagi orang tua melalui opsi ‘Limited Content’. Fitur ini memungkinkan penyaringan konten yang lebih ketat sekaligus membatasi aktivitas komentar.

Dengan pengaturan tersebut, remaja tidak dapat melihat, memberikan, maupun menerima komentar tertentu yang dianggap tidak sesuai.

Dalam sesi talkshow “Pola Asuh Cerdas di Era Digital”, selebriti sekaligus orang tua, Ersa Mayori mengaku fitur-fitur bawaan di Instagram dan Facebook sangat membantu orang tua dalam mendampingi anak di era digital.

“Sebagai orang tua, kadang kita merasa selangkah tertinggal memahami aktivitas digital anak. Karena itu, fitur-fitur bawaan yang ada di Instagram dan Facebook sangat membantu kami. Mulai dari membatasi kontak yang tidak diinginkan, menyaring konten yang tidak sesuai usia, hingga membantu mengatur screen time. Fitur-fitur ini juga memudahkan orang tua menetapkan batasan di rumah tanpa harus langsung melarang anak menggunakan media sosial,” ungkap Ersa Mayori.

Dan, sebagai bagian dari komitmen jangka panjang, Meta bersama ECPAT Indonesia juga akan melanjutkan inisiatif edukasi melalui program Smart Digital Parenting Workshop.

Program ini akan hadir di berbagai kota seperti Yogyakarta, Denpasar, Batam, dan Kupang sepanjang 2026. Tujuannya adalah meningkatkan literasi digital orang tua melalui diskusi terbuka, pengetahuan praktis, serta alat bantu untuk mendampingi remaja menggunakan media sosial secara lebih aman.

Koordinator Nasional ECPAT Indonesia, Andy Ardian menilai peran orang tua sangat penting dalam membentuk kebiasaan digital anak.

“Orang tua punya peran penting dalam membantu remaja membangun kebiasaan digital yang aman dan sehat. Melalui kolaborasi ini, kami berharap semakin banyak orang tua yang memiliki pengetahuan dan alat yang praktis untuk mendampingi anak mereka di dunia digital,” kata Andy Ardian.

Melalui berbagai pembaruan fitur dan program edukasi ini, Meta berharap dapat terus mendukung keluarga Indonesia dalam menciptakan pengalaman digital yang lebih aman, sehat, dan sesuai usia bagi generasi muda.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Nadira Alivia Manfaatkan Instagram untuk Edukasi Pendidikan bagi Anak dengan Disabilitas