Menjelang Lebaran, aktivitas masyarakat biasanya meningkat pesat, mulai dari belanja kebutuhan hari raya hingga pertukaran informasi melalui berbagai platform digital.

Namun, di balik meningkatnya aktivitas tersebut, risiko penipuan juga ikut melonjak dengan berbagai modus yang semakin beragam.

Melihat kondisi ini, perusahaan e-commerce Blibli mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap berbagai potensi penipuan, baik yang terjadi secara daring (online) maupun luring (offline).

Salah satu langkah sederhana yang dianjurkan adalah menerapkan kebiasaan JEDA sejenak sebelum bereaksi atau mengambil keputusan.

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa hingga November 2025 terdapat 64.933 laporan penipuan transaksi belanja online dengan total kerugian masyarakat mencapai Rp1,14 triliun.

Angka tersebut menjadikan penipuan belanja sebagai modus yang paling banyak dilaporkan. Teknik yang digunakan pelaku pun beragam, mulai dari social engineering, baiting dan fear of missing out (FOMO), hingga phishing.

Head of Public Relations Blibli, Nazrya Octora, mengatakan bahwa derasnya arus informasi menjelang hari raya kerap membuat masyarakat kurang waspada.

“Situasi dan informasi yang serba cepat, utamanya jelang Lebaran, sering kali membuat kita lengah. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk mulai mempraktikkan JEDA sebelum bereaksi. Dengan berhenti sejenak, kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk memvalidasi setiap informasi yang diterima, sehingga interaksi tetap aman dari risiko penipuan atau informasi hoaks,” papar Nazrya, dikutip Senin (16/3/2026).

Dengan membiasakan diri melakukan JEDA, masyarakat tidak hanya melindungi aset digitalnya, tetapi juga menjaga ketenangan pikiran di tengah derasnya arus informasi menjelang hari raya.

Baca Juga: Blibli Hadirkan 'Gaya Raya', Kurasi Fesyen Muslim Brand Lokal untuk Ramadan hingga Lebaran

Kenali Pola Modus Penipuan yang Sering Terjadi

Dikatakan Nazrya, secara umum, berbagai modus penipuan yang marak terjadi biasanya memiliki pola tertentu yang dapat dikenali, seperti:

1. Manipulasi Psikologis (Social Engineering)

Dalam modus ini, pelaku memanfaatkan rasa percaya atau kepanikan korban dengan berpura-pura menjadi pihak tepercaya. Misalnya, menyamar sebagai kurir paket Lebaran, petugas bank, atau layanan pelanggan resmi.

Korban kemudian diminta memberikan data pribadi, termasuk kode OTP atau password, dengan alasan verifikasi keamanan atau pembaruan sistem.

Padahal, informasi tersebut dapat digunakan untuk mengambil alih akun korban. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak pernah membagikan data rahasia kepada siapa pun.

2. Umpan Keuntungan Instan (Baiting & FOMO)

Pelaku juga kerap memancing korban dengan iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat. Contohnya promo atau diskon yang terdengar terlalu menggiurkan, seperti Diskon 90% hanya 5 menit atau Voucher terbatas untuk 50 orang pertama.

Selain itu, ada pula tawaran pekerjaan online yang menjanjikan komisi tambahan menjelang Lebaran, tetapi berujung pada permintaan deposit atau transfer dana dari korban.

Penawaran yang terlalu mendesak atau tidak masuk akal sering kali menjadi tanda awal adanya penipuan.

3. Pencurian Identitas Digital (Phishing)

Modus phishing dilakukan dengan mengirim tautan yang mengarah ke halaman login palsu yang dibuat menyerupai situs resmi. Perbedaannya sering kali sangat tipis, misalnya alamat domain yang hampir sama dengan situs asli.

Dalam beberapa kasus, pelaku juga menggunakan taktik company impersonation, yaitu mengatasnamakan pimpinan atau eksekutif perusahaan untuk meyakinkan korban.

Tujuannya adalah mencuri username, password, hingga detail kartu kredit ketika korban mencoba masuk ke akun mereka.

Untuk menghindari risiko ini, masyarakat disarankan hanya mengakses informasi dan melakukan transaksi melalui kanal resmi, serta selalu memeriksa alamat situs sebelum memasukkan data pribadi.

Nah Growthmates, berbagai modus penipuan tersebut umumnya memanfaatkan kondisi psikologis korban, seperti rasa terburu-buru, takut kehilangan promo, atau kekhawatiran paket tidak sampai tepat waktu.

Dalam situasi seperti itu, korban sering kali langsung bereaksi tanpa sempat memverifikasi informasi yang diterima. Karena itu, kewaspadaan digital tidak hanya bergantung pada kemampuan mengenali modus penipuan, tetapi juga pada kebiasaan sederhana untuk memberi JEDA sebelum bertindak.

Adapun, prinsip JEDA terdiri dari empat langkah sederhana, yakni:

  • J – Jangan reaktif
  • E – Evaluasi informasi
  • D – Double-check
  • A – Ambil keputusan dengan tenang

Melalui langkah tersebut, masyarakat diajak memberi ruang bagi logika untuk bekerja sebelum mengambil keputusan, baik dalam aktivitas digital maupun kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Data Blibli: Permintaan Busana Muslim Meningkat Tajam saat Ramadan