Obesitas masih sering dipandang sebagai akibat dari pola makan yang buruk atau kurang olahraga. Padahal, kondisi ini jauh lebih kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari genetika, hormon, hingga lingkungan tempat seseorang hidup.
Sayangnya, berbagai mitos yang telah lama beredar membuat banyak orang salah memahami obesitas. Akibatnya, tidak sedikit penderita yang justru menghadapi stigma dan terlambat mendapatkan penanganan yang tepat.
Dan, dikutip dari Times of India, Selasa (9/6/2026), menurut Saloni Paliwal, Pendiri dan COO Voy India, sudah saatnya sejumlah anggapan keliru tentang obesitas ditinggalkan agar masyarakat dapat melihat kondisi ini secara lebih objektif dan berdasarkan ilmu pengetahuan.
1. Obesitas Hanya soal Pilihan Gaya Hidup
Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah anggapan bahwa obesitas sepenuhnya merupakan hasil pilihan pribadi.
Faktanya, obesitas dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi, mulai dari genetika, hormon, kualitas tidur, kesehatan mikrobioma usus, tingkat stres, hingga lingkungan tempat seseorang hidup.
Dua orang dengan pola makan dan aktivitas fisik yang serupa belum tentu memiliki berat badan yang sama. Faktor biologis dapat membuat respons tubuh terhadap makanan dan pembakaran energi berbeda pada setiap individu.
Menganggap obesitas semata-mata sebagai pilihan gaya hidup sering kali membuat penderita enggan mencari bantuan medis dan justru menghadapi stigma serta penilaian negatif.
2. Cukup Makan Lebih Sedikit dan Bergerak Lebih Banyak
Nasihat ini terdengar sederhana, tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Jika pendekatan tersebut selalu berhasil, obesitas tidak akan menjadi masalah kesehatan global yang memengaruhi lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia.
Tubuh manusia memiliki mekanisme biologis yang kompleks dalam mengatur rasa lapar dan penggunaan energi. Saat asupan kalori dibatasi, tubuh dapat menyesuaikan diri dengan memperlambat metabolisme dan meningkatkan sinyal rasa lapar.
Karena itu, anjuran makan lebih sedikit dan bergerak lebih banyak memang penting, tetapi tidak cukup untuk menjadi satu-satunya strategi dalam menangani obesitas sebagai penyakit kronis.
3. Kurang Kemauan Adalah Penyebab Utama
Banyak orang menganggap kegagalan menurunkan berat badan terjadi karena kurang disiplin atau kurang kuat menahan godaan. Padahal, rasa lapar tidak hanya ditentukan oleh kemauan.
Berbagai hormon seperti ghrelin, leptin, insulin, dan kortisol berperan besar dalam mengatur rasa lapar, kenyang, serta penyimpanan energi dalam tubuh. Ketika sistem hormonal ini terganggu, seseorang dapat mengalami dorongan makan yang lebih kuat tanpa disadari.
Karena itu, menyalahkan kurangnya kemauan bukanlah solusi. Penanganan obesitas perlu menyasar faktor biologis yang mendasari munculnya rasa lapar berlebihan.
Baca Juga: Daftar Negara dengan Tingkat Obesitas Terendah di Dunia