Kerupuk merupakan salah satu camilan favorit masyarakat Indonesia. Selain menjadi camilan, kerupuk juga menjadi salah satu pelengkap makanan. Namun, tahukah kamu bahwa makanan satu ini bisa membuat perut buncit dan meningkatkan risiko penyakit jantung?
Rasanya yang gurih dan teksturnya yang renyah memang membuat camilan ini sulit dipisahkan dari berbagai hidangan, mulai dari nasi goreng, bakso, hingga soto. Namun, kamu perlu waspada, di balik kenikmatannya, konsumsi kerupuk berlebihan ternyata dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Baca Juga: Gawat! Indonesia Masuk 5 Besar Negara Paling Obesitas di ASEAN, Ini Daftarnya
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat agar lebih bijak mengonsumsi kerupuk karena kandungan kalorinya cukup tinggi. Menurutnya, banyak orang tidak menyadari bahwa camilan tersebut dapat menyumbang asupan energi yang besar dalam sehari.
Budi mengungkapkan, satu keping kerupuk mengandung sekitar 65 kalori. Jika seseorang menghabiskan satu renteng atau sekitar 10 keping, total kalorinya bisa mencapai 650 kalori.
"Sepuluh kerupuk itu hampir setara dengan proporsi satu piring nasi lengkap dengan lauk-pauknya yang pasti lebih bervariasi secara rasa, tekstur, membuat kenyang, dan lebih bernutrisi," ujar Budi dikutip Olenka pada Selasa (30/06/2026).
Baca Juga: Obesitas Adalah Penyakit Kronis, Ini 7 Mitos yang Harus Diabaikan
Meski terasa ringan saat dimakan, kerupuk umumnya dibuat dari tepung tapioka atau jenis tepung lain yang tinggi karbohidrat sederhana dan rendah serat. Kombinasi tersebut membuat kerupuk cepat dicerna tubuh sehingga rasa kenyang tidak bertahan lama. Akibatnya, seseorang cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan tanpa disadari.
Selain itu, sebagian besar kerupuk diolah dengan cara digoreng dan mengandung kadar garam yang cukup tinggi. Asupan kalori, lemak, dan natrium yang berlebihan dapat memicu penumpukan lemak tubuh apabila tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang memadai. Kandungan garam yang tinggi juga dapat menyebabkan tubuh menahan cairan, sehingga perut terasa begah dan tampak lebih buncit.
Kebiasaan menjadikan kerupuk sebagai pelengkap hampir setiap kali makan juga berpotensi meningkatkan total asupan kalori harian. Karena sering dianggap hanya sebagai camilan atau pelengkap, banyak orang tidak menghitung kalori yang berasal dari kerupuk. Jika berlangsung terus-menerus, terutama disertai pola makan tinggi gula dan lemak serta minim aktivitas fisik, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan dan penumpukan lemak di area perut.
Tak hanya itu, proses penggorengan kerupuk juga perlu diperhatikan. Penggunaan minyak goreng yang dipakai berulang kali dapat menghasilkan senyawa yang kurang baik bagi kesehatan dan berpotensi meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular. Ditambah lagi, kandungan garam yang tinggi pada kerupuk dapat memicu tekanan darah tinggi apabila dikonsumsi secara berlebihan.
Dalam jangka panjang, konsumsi kerupuk secara berlebihan, terutama jika dipadukan dengan pola hidup yang kurang sehat, dapat meningkatkan berbagai faktor risiko penyakit tidak menular seperti obesitas, hipertensi, diabetes, hingga penyakit jantung.
Oleh karena itu, para ahli menyarankan agar kerupuk dikonsumsi secukupnya dan tidak dijadikan sumber kalori utama. Mengimbanginya dengan makanan bergizi, seperti sayur, buah, protein, serta rutin berolahraga, menjadi langkah penting untuk menjaga berat badan sekaligus kesehatan jantung.