Pemerintah tengah putar otak melakukan efisiensi anggaran untuk menjaga defisit anggaran negara di bayang-bayang krisis imbas gejolak Timur Tengah karena perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Ada beberapa skenario efisiensi yang sedang dipertimbangkan pemerintah salah satunya adalah opsi belajar dan kerja dari rumah untuk menghemat energi. Selain itu pemerintah juga sedang mempertimbangkan pemangkasan gaji pejabat kementerian dan lembaga negara hingga anggota DPR.
Baca Juga: Pria Joget di Dapur MBG Kelola Tujuh Dapur SPPG, Badan Gizi Nasional: Ini Bukan Bisnis!
Di tengah pertimbangan opsi tersebut sejumlah pihak mengusul agar pemerintah juga melakukan efisiensi anggaran pada program kerja, salah satunya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memang menguras anggaran jumbo.
Meski usulan itu terus didorong, namun Presiden Prabowo Subianto memastikan MBG tak bakal ia utak-atik demi penghematan anggaran. MBG harus tetap jalan di tengah ancaman krisis sekarang ini. Kepala Negara yakin masih ada cara lain selain mengefisiensi anggaran MBG.
Bagian seluruh anak Indonesia, ibu hamil dan lansia harus tetap mendapat asupan gizi yang cukup kendati kondisi negara terancam krisis imbas situasi geopolitik yang kian tan menentu.
"Jadi, jangan ke arah oke ada krisis nanti kita hentikan MBG. Iya kan? Masih banyak cara lain yang kita bisa hemat. Masih banyak,” kata Prabowo dilansir Kamis (26/3/2026).
Memang gejolak Timur Tengah bakal berimbas pada sejumlah negara termasuk Indonesia. Krisis ekonomi menjadi ancaman serius yang perlu disikapi dengan sungguh-sungguh.
Prabowo mengakui itu, namun ia yakin keputusan untuk tak menyetop program MBG adalah keputusan bijak. Ia yakin Indonesia bisa melewati situasi ini.
“Saya haqul yakin saya berada di jalan yang benar. Uang kita ada. Uang kita ada. Saya pertaruhkan kepemimpinan saya 2029 kita lihat," tegasnya.
Keputusan pemerintah untuk tak mengefisiensi MBG juga disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Baca Juga: MBG Bukan Ladang Bisnis
"Enggak dong (dipotong), kita lebih memilih untuk kurangi belanja-belanja yang tidak efektif lah atau kurang berdampak itu yang direlokasi agar program yang produktif, berdampak dan membantu meringankan beban masyarakat itu yang diutamakan," ujar Prasetyo Hadi.