Pemerintah resmi memangkas pelaksanaan distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menjaga anggaran negara di tengah tekanan global yang terjadi sekarang ini. Realisasi MBG yang tadinya dilaksanakan full dalam satu minggu kini dipangkas satu hari yakni Hari Sabtu. 

Pemangkasan pelaksanaan MBG langsung berdampak pada stabilitas anggaran. Pemangkasan sehari mampu mengirit anggaran hingga Rp1 Triliun.

Baca Juga: MBG Wajar Dikritik

“MBG misalnya, yang dulunya Sabtu diberikan makan siang gratis, sekarang itu dihilangkan. Satu hari itu bisa ngirit satu triliun,” kata Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung dilansir Selasa (28/4/2026).

Pemangkasan distribusi MBG di hari Sabtu kata Juda jelas sudah dipikirkan masak-masak sebelum kebijakan itu direalisasikan. Juda mengatakan dengan pemangkasan tersebut, maka dalam sebulan negara menghemat anggaran hingga Rp4 triliun.

Jika diakumulasi selama satu tahun, nilai penghematan tersebut dapat mencapai sekitar Rp50 triliun. Juda menegaskan langkah penghematan itu tepat sasaran. Kebijakan tersebut lanjut Juda juga mempertimbangkan aspek rasionalitas pelaksanaan di lapangan.

"Tidak efisien apabila peserta didik harus datang ke sekolah pada hari Sabtu hanya untuk menerima makanan," ucapnya.

Selain hari Sabtu, pemerintah juga menghentikan penyaluran MBG pada masa libur sekolah. Kebijakan ini semakin memperkuat upaya pengendalian belanja negara, terutama dalam konteks tekanan global yang meningkat.

Dalam kerangka fiskal yang lebih luas, langkah efisiensi ini menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali.

Tekanan harga minyak global yang berfluktuasi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kebijakan fiskal saat ini.

Pemerintah, kata Juda, tetap menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun, kebijakan tersebut berimplikasi pada peningkatan beban subsidi energi.

Oleh karena itu, pengendalian belanja melalui refocusing program menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga keseimbangan fiskal.

Selain itu, pemerintah juga berupaya mengoptimalkan penerimaan negara, termasuk melalui implementasi sistem perpajakan berbasis digital atau coretax.

Di sisi lain, potensi penerimaan dari komoditas unggulan seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) juga menjadi faktor pendukung dalam menjaga stabilitas fiskal.

Baca Juga: Asal Usul Lahirnya MBG, Gagasan Prabowo yang Dicetus Jauh Sebelum Ide Mendirikan Partai Gerindra

Kebijakan penghapusan MBG pada hari Sabtu menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada ekspansi program, tetapi juga pada efisiensi dan efektivitas pelaksanaan.

Dengan ruang fiskal yang lebih longgar, pemerintah diharapkan dapat mengalokasikan anggaran secara lebih optimal untuk program-program prioritas lainnya, tanpa mengabaikan kualitas layanan publik