Monash University, Indonesia, menggelar Teaching Excellence Program (TEP) 2026 untuk memperkuat kapasitas para pendidik dalam menerapkan praktik pembelajaran yang lebih inklusif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa di tengah pesatnya perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI).
Berbeda dengan pelatihan pendidik pada umumnya, TEP 2026 mengintegrasikan asesmen autentik (authentic assessment), masukan interaktif (dialogic feedback), serta integrasi teknologi secara bijak untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang relevan dan aplikatif. Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi antara Monash Education Academy (Monash University, Australia), Education & Training Academy (Monash University, Malaysia), dan Learning & Teaching Operations (Monash University, Indonesia), yang memadukan wawasan global dengan konteks lokal untuk menjawab tantangan pendidikan tinggi di Indonesia.
Baca Juga: Apa Pentingnya Pendidikan Militer Bagi Masyarakat Sipil?
Pada TEP 2026, peningkatan kualitas pengajar menjadi prioritas utama. Program ini mendorong pengajar untuk mengevaluasi metode yang digunakan, merancang pengalaman belajar sesuai beragam kebutuhan mahasiswa, serta memanfaatkan AI sebagai sarana untuk memperkaya proses berpikir, logika, dan integritas akademik. Dari berbagai diskusi, program ini juga mengkaji tantangan yang terus dihadapi dalam menyeimbangkan tanggung jawab antara penelitian dan pengajaran.
Metode seperti asesmen autentik diterapkan untuk memastikan pembelajaran tetap relevan dengan dunia kerja dan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, masukan interaktif mendorong terjadinya interaksi dua arah yang memperdalam pemahaman, membangun kepercayaan diri, dan menjadikan proses belajar sebagai dialog yang memperkaya proses belajar, bukan sekedar transfer pengetahuan satu arah.
Pendekatan ini semakin diperkuat oleh Teaching that Transforms, sebuah inisiatif global Monash University yang menjadi bagian penting dari filosofi pembelajaran di Monash University Indonesia. Inisiatif ini menempatkan pengajar tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang menginspirasi rasa ingin tahu, kemampuan pemecahan masalah, dan membantu mahasiswa mengembangkan kompetensi yang mereka perlukan untuk berkembang dan berhasil di dunia nyata.
Associate Professor Claudia Stoicescu dari bidang Kesehatan Masyarakat mengintegrasikan pengalaman penelitian dan praktik kesehatan masyarakatnya ke dalam ruang kelas melalui proses pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), simulasi tantangan dunia nyata, serta pendekatan yang menempatkan isu kesetaraan dan keadilan sosial sebagai inti dari proses pendidikan. Pendekatan ini membantu mahasiswa memahami bagaimana pengetahuan akademik dapat diterapkan untuk memberikan dampak nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
Professor Matthew Nicholson, Pro Vice-Chancellor & President Monash University, Indonesia, menyampaikan, "Di Monash University, Indonesia, kami percaya bahwa kualitas pendidikan berawal dari kualitas para pengajarnya. Melalui Teaching Excellence Program 2026, kami berkomitmen untuk mendukung para pengajar dalam mengembangkan praktik pengajaran yang reflektif, adaptif, dan relevan, termasuk dalam merespons pesatnya perkembangan AI. Pengajaran tidak hanya sekedar proses pengetahuan, tetapi juga sebagai upaya membangun cara berpikir kritis serta menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi mahasiswa."