Bagi Yopanda, kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti terbebas dari ketidakpastian penghasilan, keterbatasan pendidikan, serta minimnya akses terhadap kesempatan untuk berkembang.

Pria 38 tahun tersebut kini bekerja sebagai supervisor di Pabrik AQUA Tanggamus, Lampung. Perjalanannya menuju posisi tersebut bermula dari kehidupan sebagai petani dan pekerja serabutan dengan penghasilan yang bergantung pada cuaca dan musim panen.

Kisah Yopanda menjadi salah satu gambaran bagaimana keberadaan Pabrik AQUA Tanggamus turut membuka kesempatan bagi masyarakat sekitar. Sejak mulai beroperasi pada April 2016, sekitar 90% karyawan pabrik tercatat berasal dari masyarakat sekitar, berdasarkan data per Agustus 2026.

Kepala Pabrik AQUA Tanggamus Teguh Santoso mengatakan, perusahaan sejak awal berupaya memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk berkembang bersama industri.

“Bagi kami, membangun pabrik berarti juga membangun masyarakat di sekitarnya. Karena itu, sejak awal kami berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia lokal, dan hari ini mayoritas karyawan kami adalah putra-putri daerah yang tumbuh bersama Pabrik AQUA Tanggamus,” ujar Teguh dalam keterangan, Rabu (19/08/2026). 

Baca Juga: Blok M Jadi 'Negara Kaum Adem', AQUA Hadirkan Lomba 17-an hingga Secret Gig

Sebelum mengenal dunia industri, keseharian Yopanda banyak dihabiskan dengan bertani dan bekerja serabutan. Kondisi tersebut membuat penghasilannya sangat bergantung pada cuaca dan musim.

Kesempatan mengenal dunia industri datang ketika pembangunan Pabrik AQUA Tanggamus berlangsung. Saat itu, Yopanda ikut bekerja dalam proyek konstruksi dan bergabung dengan tim engineering.

Pengalaman tersebut menjadi titik awal bagi Yopanda untuk mengenal lingkungan kerja yang berbeda dari kesehariannya sebagai petani. Ia melihat rekan-rekannya menggunakan komputer dan laptop untuk menunjang pekerjaan.

Baca Juga: Vino 'Gubernur Blok M' Ikut Ramaikan Pesta Kaum Adem AQUA, Intip Keseruannya!

Keinginan untuk belajar semakin kuat karena saat itu Yopanda belum memiliki ijazah setara SMA. Kesempatan kemudian datang melalui program Paket C yang ditawarkan perusahaan bagi masyarakat sekitar yang belum memiliki ijazah SMA.

Yopanda menjadi salah satu dari sekitar 20 warga yang mengikuti program tersebut. Di tengah kesibukannya bekerja, ia kembali belajar dua kali dalam seminggu hingga akhirnya memperoleh ijazah Paket C.

“Saya lihat teman-teman di engineering bisa menggunakan komputer dan laptop. Dari situ saya tergerak, saya juga ingin bisa. Ketika ada program Paket C, saya ikut karena ingin mendapat ijazah sekaligus menambah pengetahuan,” cerita Yopanda.

Kini, Yopanda tidak hanya telah memiliki ijazah setara SMA, tetapi juga terbiasa menggunakan komputer dalam pekerjaan sehari-harinya di lingkungan pabrik.

Memasuki dunia industri membawa perubahan besar dalam kehidupan Yopanda. Jika sebelumnya ia dapat menentukan sendiri kapan mulai dan selesai bekerja sebagai petani, lingkungan industri memperkenalkannya pada disiplin waktu, prosedur kerja, serta budaya keselamatan.

Baca Juga: AQUA Dukung Hidrasi 10.200 Pelari di Mandiri Jogja Marathon 2026

Menurutnya, perubahan terbesar justru terjadi pada pola pikir. Ia belajar untuk lebih disiplin, memperhatikan keselamatan orang lain, dan memahami bahwa tanggung jawab merupakan bagian dari pekerjaan bersama.

Kebiasaan tersebut bahkan terbawa ke kehidupan sehari-hari, termasuk ketika ia kembali berkegiatan di kebun.

“Dulu ketika bekerja sebagai petani, kami tidak terlalu mengenal aturan keselamatan seperti di industri. Setelah bekerja di sini, kami jadi lebih peduli. Bahkan ketika sedang libur dan pergi ke kebun, tanpa sadar kebiasaan tentang keselamatan itu ikut kami terapkan,” ujarnya.

Dari sisi ekonomi, perubahan juga dirasakan secara nyata. Dengan pekerjaan yang lebih stabil, Yopanda kini dapat merencanakan penghasilan dan kehidupannya dengan lebih baik.

Bagi Yopanda, kondisi tersebut merupakan salah satu bentuk kemerdekaan yang paling ia rasakan. Ia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada musim panen dan memiliki kesempatan untuk terus mengembangkan diri.

Perjalanan Yopanda menjadi bagian dari komitmen Pabrik AQUA Tanggamus untuk tumbuh bersama masyarakat sekitar. Sejak tahun pertama operasional, perusahaan memberikan berbagai pelatihan kepada warga yang sebelumnya banyak bekerja sebagai petani dan pekerja informal.

Pelatihan tersebut mencakup pengenalan dunia manufaktur, keselamatan kerja, hingga keterampilan teknis seperti pengelasan atau welding dan kompetensi operasional lainnya.

Baca Juga: Jelang Ramadan, AQUA Ajak Masyrakat Jaga Emosi dan Hidrasi Lewat #TemanAdemRamadan

Pendekatan tersebut dilakukan agar masyarakat lokal tidak hanya memperoleh kesempatan kerja, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat menunjang perkembangan mereka di lingkungan industri.

Komitmen terhadap masyarakat kemudian diperluas melalui berbagai program keberlanjutan yang berlandaskan filosofi lokal Begawi Jejama, yang bermakna bekerja bersama dan bergotong royong.

Di wilayah hulu Pegunungan Tanggamus, perusahaan bersama masyarakat telah menanam lebih dari 11.000 pohon serta membangun sekitar 700 rorak atau lubang resapan air sepanjang 2016–2026.

Upaya tersebut ditujukan untuk memperkuat daerah tangkapan air, mengurangi risiko erosi, dan menjaga kelestarian sumber daya air. Program tersebut juga berjalan bersama pendampingan kepada petani kopi melalui praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan.

Sementara di wilayah hilir, Pabrik AQUA Tanggamus mengembangkan Taman Kehati Galih Batin seluas sekitar 3,2 hektare sebagai ruang terbuka hijau sekaligus pusat edukasi lingkungan.

Berdasarkan penelitian bersama Universitas Lampung pada 2025, kawasan tersebut memiliki indeks keanekaragaman hayati sebesar 3,16 yang tergolong tinggi. Sedikitnya enam spesies tanaman endemik dan 22 jenis burung juga telah teridentifikasi di kawasan tersebut.

Melalui program Water, Sanitation, and Hygiene (WASH), Pabrik AQUA Tanggamus turut mendukung peningkatan akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi yang layak.

Hingga 2026, program tersebut telah memberikan manfaat kepada 1.037 warga melalui 203 sambungan air bersih yang terhubung langsung ke rumah masyarakat.

Komitmen terhadap lingkungan juga diwujudkan melalui program pengelolaan sampah “Sampahku Tanggung Jawabku”. Sejak dijalankan hingga 2026, program tersebut telah mengelola sekitar 378 ton sampah plastik.

Bagi Teguh, perjalanan Yopanda menunjukkan bahwa makna kemerdekaan juga dapat diwujudkan melalui terbukanya kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup dan menjadi lebih mandiri.

“Bagi kami, semangat kemerdekaan hari ini adalah tentang membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk hidup dengan kualitas yang lebih baik dan mendorong setiap individu dapat menjadi versi terbaik mereka. Kisah Yopanda adalah salah satu contohnya, dan kami ingin Pabrik AQUA Tanggamus terus menjadi bagian dari perjalanan itu. Selamat Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia,” tutup Teguh.