Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyeng disebut-sebut ikut terlibat dalam pengadaan barang dan jasa di era Dadan Hindayana yang belakangan diketahui terlibat kasus korupsi lewat berbagai modus termasuk markup harga barang.

Nanik di era Dadan menjabat sebagai wakil kepala bidang komunikasi publik dan investigasi BGN. Ia disebut terlibat dalam berbagai proyek pengadaan barang dan jasa mengingat jabatannya juga tak sembarangan.

Baca Juga: Janji-janji Nanik S Deyang

Kekinian Nanik memantah tegas tudingan tersebut, di era sebelumnya ia mengaku sama sekali tak terlibat proyek apapun termasuk pengadaan barang dan jasa. Ia bekerja sesuai tupksi yang diembannya.

“Kalau dibilang orang BGN lama, gue itu sebetulnya hampir sama dengan mereka barunya. Gue masuk itu akhir September. Jadi, kalau ada pengadaan gue enggak pernah ikut, pengadaan kan bulan Juni. Gue kagak pernah diajak rapat,” kata Nanik dikutip dari podcast Total Politik dilansir Minggu (14/6/2026).

Di bawah kepemimpinan Dadan, Nanik mengaku bertugas sesuai prosedur, ia tak pernah berurusan dengan masalah pengadaan barang dan jasa. Tugasnya ketika itu adalah menangani komunikasi publik dan situasi tertentu yang membutuhkan respons cepat ia sama sekali tak terlibat dalam masalah anggaran.

"Saya baru terlibat kalau ada kejadian luar biasa (KLB), bukan investigasi soal duit. Bagian saya di pinggiran banget," ujarnya.

Menjabat sebagai wakil kepala bidang komunikasi publik dan investigasi BGN di era Dadan, Nanik memgaku akesesnya sangat terbatas. Ia tak pernah terlibat dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan penggunaan anggaran.

"Mau rapat keputusan kaus kaki, motor listrik, gue tidak tahu dan gue tidak terlibat sama sekali. Seumprit kucing pun gue enggak tahu," tegasnya.

Meski mengaku ruang lingkupnya terbatas, namun Nanik di masa itu sempat melakukan inpeksi mendadak di beberapa dapur MBG. Terkait itu dia bilang hal itu dilakukan atas inisiatif pribadi.

"Gue sidak itu menunjukkan kepada presiden dan semuanya bahwa ini lho kenyataannya. Kalau semuanya dikasih Rp 6 juta tentu negeri ini boncos," katanya.

Bantah Jadi Cepu

Tak hanya membantah keterlibatannya dalam pengadaan barang dan jasa, Nanik juga dengan secara tak langsung memantah tudingan yang menyebut dirinya adalah mata-mata alias cepu yang membongkar permainan anggaran di BGN hingga menyeret Dadan Cs.

Ia mengatakan, kalaupun benar dirinya menjadi mata-mata, maka itu bukan sebuah pekerjaan hina. Semuanya dilakukan demi mengamkan uang rakyat.

"Kalau gue dianggap sebagai cepu, kalau pun iya gue cepuin kan untuk mengamankan duit negara. Salah tidak?" ujarnya.

Dia mengatakan, selama di BGN dirinya nyaris tak pernah berkomunikasi secara langsung dengan presiden Prabowo Subianto, sehingga anggapan dirinya adalah cepu dianggapnya tak masuk akal.

"Tanyakan saja ke Mas Teddy dan sekretaris bapak, sejak gue diangkat jadi wakil itu kayaknya gue belum pernah bertemu Prabowo. Sekali ketemu urusan soal becak listrik," ungkapnya.

Baca Juga: Nanik S. Deyang Rombak Total Strategi MBG: Fokus Utama Efisiensi Anggaran

Meski demikian ia tak membantah jika dirinya memang mengutarakan secara langsung dugaan korupsi di BGN ke pada Prabowo. Hal itu disampaikannya saat membahas program sekolah terintegrasi pada Januari 2025.

"Saya bilang, 'waduh berat pak, masih banyak yang korup-korup'. Itu saja kalimat saya," tuntasnya.