Nanik S Deyang berjanji bakal membenahi Badan Gizi Nasional (BGN) serta memperbaiki implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Nanik saat ini telah resmi menjabat kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana yang terseret kasus korupsi tata kelola MBG. Nanik sudah dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada senin (9/6/2026).

Baca Juga: Ratusan Dapur MBG Berhenti Beroperasi

Dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala BGN, Nanik bakal dibantu Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono sebagai wakil kepala BGN menggantikan Lodewyk Pusung dan Sonny Sonjaya yang juga terseret kasus bersama Dadan.

Supaya lebih jelas, berikut janji-jani Nanik yang akan dilaksanakan selama memimpin BGN: 

Efisiensi Anggaran

Salah satu janji Nanik yang paling disorot publik adalah upaya mengurangi anggaran MBG. Maklum saja MNG memjadi salah satu program yang paling menguras Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). 

Nanik berjanji bakal mengurangi beban APBN dan mencari pendanaan dari luar anggaran negara misalnya lewat investor hingga hibah dari luar negeri.

Tak hanya itu langkah efisiensi ini juga ditimdaklanjuti dengan menghitung ulang penerima manfat MBG agar program tersebut benar-benar tepat sasaran. Di sisi lain Nanik juga mempertimbangkan untuk menyetop pembangunan dapur - dapur penyalur MBG atau Satuan Pelanyanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan mempertimbangkan memanfaatkan kantin sekolah.

Tak Ugal-ugalan Pakai Anggaran 

Poin berikutnya yang bakal dikerjakan Nanik selama menjabat kepala BGN adalah sosal pengelolaan anggaran. Nanik berjanji seluruh pengelolaan anggaran yang berkaitan dengan MBG bakal dilakukan secara transparan dan dapat dipantau publik. 

Ia mengatakan pihaknya tak bakal ugal-ugalan menggunakan anggaran MBG, seluruhnya dipakai secara cermat untuk kesuksesan program MBG.

"Di sini saya ditemani Ibu Arumsari yang sehari-hari akan memelototi saya dalam hal keuangan dengan teliti, dengan benar. Saya tidak akan mengambil keputusan apapun berkait pengeluaran duit bila Bu Sari tidak oke," ujar Nanik.

Coret Sekolah Orang Kaya dari Program MBG

Seperti yang sudah disinggung diawal BGN di era Nanik bakal lebih selekif menentukan penerima manfaat dari program MBG. Untuk itu Nanik Cs bakal menghitung ulang sasaran MBG saat ini. 

Dalam proses seleksi yang dilakukan, BGN bakal mencoret sekolah-sekolah yang dianggap mampu dari program MBG. Sekolah swasta favorit yang biasanya menjadi tempat masyarakat kelas atas tidak akan masuk dalam program MBG.

"Kami refocusing penerima manfaat. Refocusing ini maksudnya adalah apakah perlu? Rasanya tidak perlu ya kalau misalnya sekolah-sekolah kaya. Kan ini pasti di rumah gizinya juga lebih bagus," kata Nanik.

"Jadi, kita lebih arahkan nanti benar-benar pada anak-anak atau penerima manfaat yang benar-benar membutuhkan intervensi gizi," tambahnya.

Rekrut Ahli Gizi dan Dokter 

Untuk meningkatkan kualitas program MBG, Nanik berjanji bakal merekrut ahli gizi dan dokter sebagai dewan pengarah.

Keberadaan Dewan Pengarah di BGN telah diatur dalam struktur organisasi dan tata kerja (SOTK).

"Di SOTK sebetulnya dari BGN berdiri itu ada dewan pengarah. Di dewan pengarah inilah akan kami isi dengan para profesor ahli gizi dan juga profesor anak, eh dokter anak," ucap Nanik.

Dewan pengarah tersebut akan beranggotakan tujuh orang yang bertugas memberikan arahan kepada pimpinan BGN dalam menjalankan program MBG.

"Jadi nanti yang akan meng-guidance kami, yang akan membimbing kami nanti adalah dewan pengarah yang terdiri dari tujuh orang. Mungkin di antara tujuh orang itu lima kemungkinan mereka adalah dari pakar-pakar gizi," ucap dia.

Keberadaan para ahli diharapkan dapat memperkuat kualitas kebijakan sekaligus memastikan program pemenuhan gizi nasional berjalan berdasarkan pertimbangan ilmiah yang tepat.

Baca Juga: BGN Mau Irit Anggaran MBG, Nanik Deyang Kasih Kode Bakal Pangkas Jumlah Penerima Manfaat

Setelah resmi dilantik, Nanik S Deyang langsung memaparkan sejumlah fokus utama yang akan dijalankan dalam pengelolaan program MBG. Mulai dari efisiensi anggaran, refocusing penerima manfaat, peningkatan kualitas layanan, pemanfaatan skema CSR dan hibah untuk wilayah 3T, hingga pelibatan pakar gizi dan dokter dalam Dewan Pengarah