Peringatan International Women's Day (IWD) yang jatuh setiap 8 Maret kembali menjadi momentum global untuk mendorong kesetaraan gender. Pada 2026, perayaan tersebut mengusung tema “Give To Gain”, sebuah ajakan yang menekankan pentingnya kolaborasi dan saling berbagi demi kemajuan perempuan dan masyarakat secara luas.

Tema ini menggarisbawahi gagasan bahwa kemajuan perempuan tidak hanya memberikan manfaat bagi individu, tetapi juga membawa dampak positif bagi komunitas, ekonomi, hingga pembangunan global. Melalui kampanye ini, berbagai pihak diajak untuk berkontribusi melalui berbagai bentuk dukungan nyata.

Sejarah dan Latar Belakang International Women’s Day

Perayaan International Women's Day pertama kali diselenggarakan pada tahun 1911 di beberapa negara Eropa. Peringatan ini lahir dari gerakan perjuangan perempuan yang menuntut hak suara serta kondisi kerja yang lebih adil.

Baca Juga: Tips Menjadi Independent Woman yang Tangguh dan Berprestasi Menurut Psikolog

Seiring waktu, momentum tersebut berkembang menjadi gerakan global untuk memperjuangkan hak-hak perempuan di berbagai bidang, mulai dari politik hingga ekonomi. Dukungan resmi dari United Nations sejak 1975 turut memperkuat posisi IWD sebagai agenda internasional yang diperingati setiap tahun di berbagai negara.

Pada 2026, peringatan ini memasuki tahun ke-115 sejak pertama kali dirayakan. Berbagai kampanye, diskusi publik, hingga gerakan sosial digelar untuk memperluas kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesetaraan gender.

Di Indonesia sendiri, semangat IWD kerap dikaitkan dengan peringatan Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April. Keduanya sama-sama menyoroti perjuangan perempuan dalam memperoleh akses yang setara terhadap pendidikan, kesempatan kerja, dan peran kepemimpinan.

Makna Kampanye “Give to Gain”

Tema “Give To Gain” atau “Memberi untuk Mendapatkan” berakar pada filosofi timbal balik. Konsep ini menegaskan bahwa memberi bukan sekadar pengorbanan, melainkan investasi sosial yang dapat menghasilkan manfaat berkelanjutan bagi banyak pihak.

Baca Juga: Mengenal Sosok Grace Tahir, Women Leader yang Warisi Kepemimpinan dan Jiwa Entrepreneur dari Dato Sri Tahir

Pendekatan ini juga menantang pola pikir zero-sum, yakni anggapan bahwa kemajuan satu kelompok akan merugikan kelompok lainnya. Sebaliknya, pemberdayaan perempuan justru dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa peningkatan partisipasi perempuan dalam ekonomi global berpotensi meningkatkan produk domestik bruto (PDB) dunia secara signifikan. Dengan kata lain, ketika perempuan memperoleh kesempatan yang lebih luas, dampaknya dapat memperkuat ekosistem sosial dan ekonomi secara keseluruhan.

Bentuk kontribusi yang dapat dilakukan pun beragam. Mulai dari memberikan donasi kepada organisasi yang fokus pada pemberdayaan perempuan, menjadi mentor bagi perempuan muda, hingga berbagi keterampilan seperti literasi digital atau kepemimpinan.

Selain itu, dukungan juga dapat diberikan melalui pengakuan terbuka terhadap pencapaian perempuan di lingkungan kerja maupun komunitas, serta advokasi terhadap kebijakan yang mendorong kesetaraan, seperti kesetaraan upah dan fleksibilitas kerja.

Bentuk Partisipasi Individu dan Komunitas

Partisipasi dalam kampanye ini tidak harus dimulai dari langkah besar. Setiap individu dapat berkontribusi melalui tindakan sederhana yang berdampak nyata.

Misalnya dengan melawan stereotip gender di media sosial, memberikan apresiasi terhadap keberhasilan perempuan di lingkungan sekitar, atau membagikan pengetahuan melalui pelatihan gratis maupun materi pembelajaran yang mudah diakses.

Sementara itu, komunitas dapat menyelenggarakan berbagai kegiatan kreatif yang menggabungkan edukasi dan aksi sosial. Acara seperti bazar amal, seminar, hingga webinar berbayar dapat menjadi sarana penggalangan dana untuk mendukung program pemberdayaan perempuan.

Baca Juga: Momen Hari Perempuan Sedunia, Waspadai 5 Penyakit yang Menjadi Silent Killer Bagi Wanita Berikut Ini

Kampanye ini juga menghadirkan simbol visual berupa pose ikonik dengan satu tangan di dada dan satu tangan terulur ke depan sebagai lambang kesiapan untuk memberi. Pose tersebut dapat dibagikan di media sosial dengan tagar #GiveToGain, #IWD2026, dan #IWDgiving untuk memperluas jangkauan kampanye secara global.

Peran Organisasi dan Perusahaan

Selain individu, organisasi dan perusahaan juga memiliki peran penting dalam mewujudkan semangat “Give To Gain”. Salah satunya melalui program mentoring lintas jenjang, pelatihan kepemimpinan perempuan, serta kebijakan perusahaan yang lebih inklusif.

Langkah lain yang dapat dilakukan antara lain menyediakan program pengembangan karier bagi perempuan, memastikan kesetaraan dalam promosi jabatan, hingga menghadirkan kebijakan ramah pekerja perempuan seperti fleksibilitas kerja.

Sementara itu, organisasi nirlaba dapat memanfaatkan momentum IWD untuk menggalang dukungan publik melalui kampanye crowdfunding. Dana yang terkumpul dapat diarahkan pada berbagai program strategis, seperti pendidikan STEM bagi anak perempuan di daerah atau advokasi hak-hak perempuan.

Baca Juga: Hari Perempuan Sedunia: Kalbe Ajak Wanita Cegah Kanker Serviks Lebih Awal

Tema Global dari PBB dan Konteks Indonesia

Selain kampanye “Give To Gain”, komunitas internasional juga menyoroti tema yang diusung oleh UN Women bersama United Nations, yakni “Rights. Justice. Action. For All Women and Girls.”

Tema tersebut menekankan pentingnya penghapusan berbagai bentuk diskriminasi terhadap perempuan, termasuk praktik pernikahan anak, kekerasan berbasis gender, serta norma patriarki yang masih menghambat kesetaraan.

Di Indonesia, peringatan IWD 2026 diperkirakan akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Berbagai kegiatan seperti diskusi publik, pameran UMKM perempuan, hingga pertunjukan seni budaya diprediksi digelar di sejumlah kota besar.

Momentum ini sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat agenda pemberdayaan ekonomi perempuan, yang sejalan dengan semangat perjuangan tokoh emansipasi Indonesia, Raden Ajeng Kartini.

Ajakan untuk Berkontribusi

Kampanye “Give To Gain” diharapkan mampu mempercepat pencapaian target United Nations dalam Sustainable Development Goals, khususnya SDG 5 tentang kesetaraan gender.

Melalui tindakan sederhana seperti berbagi waktu, keterampilan, maupun dukungan moral, setiap orang dapat berperan dalam menciptakan perubahan yang lebih luas.

Dengan semangat kolaborasi dan solidaritas, kampanye ini mengingatkan bahwa kemajuan perempuan bukan hanya isu satu kelompok, melainkan kunci bagi pembangunan masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.