Growthmates, perempuan sering kali dihadapkan dengan berbagai penyakit berbahaya yang berkaitan dengan hormon, salah satunya adalah kanker payudara. Menurut data Kemenkes pada tahun 2024, kanker payudara menyebabkan sekitar 694 ribu kematian di dunia.
Sekitar 80% kasus kanker payudara terjadi pada perempuan tanpa riwayat atau faktor resiko tertentu, pada umumnya terjadi karena faktor gender dan pertambahan usia.
Kanker payudara menjadi penyakit yang perlu diwasapadai perempuan. Menurut keterangan dari berbagai sumber, semakin dini stadium kanker yang terdeteksi dan mendapatkan penanganan, maka angka harapan hidup pasien (survival rate) juga semakin tinggi dan tentunya diukur dari keberhasilan terapi.
Namun, masih banyak perempuan belum memahami penyakit ini secara mendalam. Untuk itu, mari memahami tentang apa itu kanker payudara dan gejalanya secara spesifik:
Mengenal Kanker Payudara
Secara sederhana, kanker payudara terjadi akibat pertumbuhan sel abnormal di payudara yang tidak terkendali hingga tumbuh menjadi tumor. Tanpa penanganan yang tepat, tumor ini dapat menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh dan membahayakan jiwa.
Umumnya, sel kanker bermula dari saluran susu atau kelenjar penghasil susu. Pada tahap awal atau yang disebut in situ, kondisinya belum berbahaya dan berpotensi ditemukan sejak dini.
Seiring waktu, Sel-sel abnormal yang muncul, akan berakumulasi dan kemudian membentuk benjolan atau massa di sekitar area payudara dan biasanya menjadi gejala awal kanker payudara.
Baca Juga: Kanker Payudara Bisa Tanpa Benjolan, Dokter Ungkap 5 Gejala yang Perlu Dikenali
Ketika sudah invasif, kanker berisiko menyebar ke bagian kelenjar getah bening atau organ terdekat. Kondisi inilah yang berpotensi mengancam nyawa penderitanya.
Oleh karena itu, metode pengobatan akan disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien, tipe kanker, dan tingkat penyebarannya. Mulai dari pembedahan, terapi radiasi, hingga pengobatan.
Kenali jenis kanker payudara yang sering ditemui:
- Ductal Carcinoma In Situ,
- Lobural Carcinoma In Situ,
- Invasive Ductal Carcinoma, dan
- Invasive Lobular Carcinoma.
Sementara itu, untuk kasus kanker payudara yang jarang terjadi diantaranya, paget disease of the breast, angiosarcoma, dan phyllodes tumor.
Faktor dan Risiko
Melansir dari situs resmi WHO, kasus kanker payudara didominasi oleh perempuan sebanyak 99% Dibandingkan laki-laki yang hanya 0,5 - 1% saja.
Faktor kondisi, dapat meningkatkan kemungkinan terkena kanker payudara seperti bertambahnya usia, obesitas, konsumsi alkohol dalam jumlah besar, memiliki keluarga dengan riwayat serupa, akibat paparan radiasi, faktor reproduksi termasuk usia awal menstruasi dan kehamilan pertama, dan penggunaan tembakau, serta terapi hormon setelah menopause.
Meski begitu, mayoritas perempuan yang mengidap kanker payudara, tidak memiliki riwayat keluarga dengan penyakit tersebut. Namun, tidak adanya riwayat keluarga bukan jaminan bahwa risiko terkenanya rendah.
Baca Juga: 5 Mitos Kanker Payudara yang Perlu Diluruskan, Ini Faktanya Menurut Ahli Onkologi
Waspadai Gejala Kanker Payudara
Gejala kanker payudara tidak selalu sama pada setiap orang. Penting untuk mengenali perubahan pada payudara dan segera berkonsultasi ke dokter apabila mengalami gejala berikut:
- Muncul benjolan di payudara atau ketiak: Biasanya tidak terasa nyeri, teksturnya keras, dan tidak rata.
- Ukuran atau bentuk payudara berubah: Salah satu sisi terlihat lebih besar atau terlihat tidak simetris dengan sisi yang lain.
- Kondisi kulit payudara berubah: Kulit tampak berkerut seperti kulit jeruk, kemerahan, hingga mengelupas atau bersisik.
- Puting mengeluarkan cairan tanpa diperas: Bisa berupa darah atau cairan bening.
- Rasa nyeri pada payudara atau puting: Nyeri yang berkepanjangan atau hilang-timbul.
- Puting masuk ke dalam atau inverted nipple: Puting tidak condong keluar.
- Kelenjar getah bening membengkak: Umumnya terjadi di area ketiak atau di sekitar tulang selangka.
Mencegah Kanker Payudara
Melansir dari situs Kementerian Kesehatan, upaya pencegahan kanker payudara terbagi menjadi dua, yaitu pencegahan primer yang berfokus untuk mencegah agar tidak terkena kanker payudara dengan cara mengurangi atau menghindari berbagai faktor pemicu. Sementara itu, pencegahan sekunder dilakukan melalui skrining atau deteksi dini kanker payudara.
Pencegahan secara primer diantaranya sebagai berikut:
- Mengendalikan berat badan agar tetap ideal,
- Memperbanyak konsumi makanan sehat dan bergizi,
- Rutin melakukan aktivitas fisik,
- Tinggalkan rokok dan sejenisnya,
- Hindari konsumsi minuman beralkohol,
- Untuk Ibu menyusui, rutin memberikan ASI untuk bayi,
- Minimalkan terapi hormon sesuai anjuran dokter, dan
- Hindari paparan radiasi berlebih.
Untuk pencegahan sekunder, hal sederhana yang dapat dilakukan yaitu dengan penerapan Pengecekan Payudara Sendiri (SADARI), Periksa Payudara Klinis (SADANIS), dan skrinning mammografi.