Perubahan pada payudara selama kehamilan dan menyusui kerap dianggap sebagai hal yang wajar. Mulai dari ukuran payudara yang bertambah, terasa lebih penuh, hingga munculnya benjolan, berbagai perubahan tersebut bisa dikaitkan dengan perubahan hormon atau proses produksi air susu ibu (ASI). Namun, perempuan tetap perlu waspada apabila menemukan perubahan yang tidak biasa.
Kanker payudara dapat terjadi pada berbagai fase kehidupan perempuan, termasuk saat hamil dan menyusui. Karena itu, mengenali kondisi normal payudara dan memahami tanda-tanda yang perlu diperiksa menjadi bagian penting dari upaya deteksi dini.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Comfort in Every Journey, kolaborasi Sorella Indonesia dan Lovepink pada 9 Oktober 2026. Melalui kegiatan ini, keduanya mengajak perempuan, khususnya ibu hamil dan menyusui, untuk lebih peduli terhadap kesehatan payudara dan tidak menunda pemeriksaan ketika menemukan perubahan yang mencurigakan.
Ahli Gizi Lovepink, dr. Patsy S. Djatikusumo, Sp.GK, menjelaskan bahwa perempuan perlu mengenali kondisi payudaranya sendiri agar dapat menyadari apabila terdapat perubahan baru.
“Yang perlu diwaspadai adalah perubahan baru dari kondisi yang biasanya kita kenali, seperti munculnya benjolan, perubahan bentuk atau kulit payudara, puting yang tertarik ke dalam, maupun keluarnya cairan yang tidak biasa dari puting ketika tidak sedang menyusui,” jelas dr. Patsy dalam sesi edukasi.
Benjolan hingga Perubahan Puting Jangan Diabaikan
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah munculnya benjolan pada payudara. Meski tidak semua benjolan merupakan kanker, perubahan yang menetap atau terasa berbeda dari kondisi biasanya sebaiknya tidak diabaikan.
Selain benjolan, perubahan bentuk atau kulit payudara, puting yang baru tertarik ke dalam, serta keluarnya cairan yang tidak biasa dari puting juga perlu diwaspadai. Perubahan tersebut tidak serta-merta menunjukkan kanker payudara, tetapi perlu diperiksa untuk mengetahui penyebabnya.
Baca Juga: Lagi Menyusui Bukan Berarti Bebas Kanker Payudara, Ini Penjelasan Ahli
dr. Patsy mengingatkan perempuan agar tidak langsung menyimpulkan bahwa perubahan yang ditemukan merupakan kanker, tetapi juga tidak menganggapnya sebagai kondisi yang pasti tidak berbahaya.
“Jika menemukan perubahan tersebut, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis. Jangan langsung menyimpulkan bahwa itu kanker, tetapi jangan pula mengabaikannya,” ujarnya.
Pemeriksaan medis diperlukan untuk menentukan penyebab perubahan tersebut dan apakah pemeriksaan lanjutan dibutuhkan. Langkah ini menjadi penting karena sejumlah kondisi jinak juga dapat menimbulkan benjolan atau perubahan pada payudara.
Mengapa Ibu Menyusui Tetap Perlu Waspada?
Perhatian terhadap perubahan payudara menjadi semakin penting selama kehamilan dan menyusui. Pada masa tersebut, perubahan hormon dan produksi ASI dapat membuat payudara terasa lebih penuh, sensitif, atau mengalami perubahan lainnya.
Kondisi tersebut terkadang membuat perempuan menganggap benjolan yang muncul sebagai saluran ASI yang tersumbat. Akibatnya, pemeriksaan bisa tertunda apabila benjolan dianggap akan hilang dengan sendirinya.
“Masalahnya, ketika sedang menyusui, seorang ibu mungkin menganggap benjolan yang muncul sebagai saluran ASI tersumbat atau masalah lain yang berkaitan dengan menyusui. Akibatnya, pemeriksaan bisa tertunda,” jelas dr. Patsy.
Ia menegaskan bahwa kanker payudara tetap dapat terjadi ketika seorang perempuan sedang hamil atau menyusui. Namun, hal tersebut bukan berarti kehamilan atau menyusui menyebabkan kanker.
Baca Juga: Risiko Kanker Payudara Naik 60 Persen karena Cat Rambut? Ini Penjelasan Pakar IPB
Pengalaman Roza Marthalisa, salah satu penyintas kanker payudara, turut memperlihatkan bahwa penyakit ini dapat terdiagnosis saat seorang perempuan masih menyusui anaknya.
“Saya terdiagnosis kanker payudara pada usia 37 tahun, teman-teman. Saat itu saya sedang menyusui anak kedua yang usianya sekitar satu setengah tahun,” ungkap Roza dalam sesi berbagi pengalaman.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa status menyusui tidak membuat perempuan sepenuhnya terbebas dari risiko kanker payudara. Menyusui memang dapat menurunkan risiko, tetapi bukan menghilangkannya.
Karena itu, perempuan tetap perlu memperhatikan perubahan pada payudara, termasuk ketika sedang hamil maupun menyusui. Jika menemukan benjolan yang menetap atau perubahan yang terasa tidak biasa, pemeriksaan sebaiknya tidak ditunda.
SADARI Membantu Mengenali Perubahan Sejak Dini
Salah satu langkah yang dapat dilakukan perempuan untuk meningkatkan kewaspadaan adalah SADARI atau pemeriksaan payudara sendiri. Pemeriksaan ini membantu perempuan mengenali kondisi normal payudaranya sehingga lebih mudah menyadari apabila terdapat perubahan baru.
dr. Patsy menjelaskan bahwa pemeriksaan dapat dilakukan secara rutin setiap bulan. Bagi perempuan yang masih menstruasi, pemeriksaan bisa dilakukan sekitar hari ketujuh hingga kesepuluh sejak hari pertama menstruasi, ketika payudara biasanya tidak terlalu bengkak atau sensitif.
“Yang paling penting adalah melakukannya secara konsisten setiap bulan. Jika hanya dilakukan setiap tiga atau enam bulan sekali, perubahan yang muncul mungkin baru disadari setelah cukup lama,” jelasnya.
Baca Juga: Apakah Kanker Payudara Penyakit Keturunan? Ini Fakta yang Perlu Diketahui
Melalui pemeriksaan rutin, perempuan dapat mengenali bentuk, ukuran, serta kondisi payudara yang biasanya dimiliki. Hal ini penting karena setiap perempuan mempunyai bentuk payudara dan puting yang berbeda.
dr. Patsy mencontohkan bahwa ada perempuan yang sejak lama memiliki puting agak masuk ke dalam atau mengarah ke sisi tertentu. Kondisi yang sudah ada sejak lama tidak selalu menandakan kanker.
Sebaliknya, perubahan baru dari kondisi yang biasanya dikenali perlu diperhatikan. Pemeriksaan mandiri bukan bertujuan untuk mendiagnosis kanker, melainkan membantu perempuan menyadari perubahan yang membutuhkan penilaian medis.
“Intinya, pemeriksaan payudara sendiri yang dilakukan rutin setiap bulan dapat membantu kita mengenali perubahan sejak dini. Jika ada tanda yang tidak biasa, segera periksakan diri,” ujarnya.
Selain SADARI, perempuan juga dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menjalani pemeriksaan payudara klinis atau SADANIS. Dokter dapat menilai apakah pemeriksaan lanjutan, seperti USG payudara atau mamografi, diperlukan berdasarkan usia, kondisi, dan faktor risiko masing-masing.
Pemeriksaan mandiri tidak menggantikan pemeriksaan medis. Karena itu, perempuan yang menemukan perubahan mencurigakan sebaiknya tidak menunggu sampai jadwal SADARI berikutnya untuk berkonsultasi.
Kenali Faktor Risiko dan Pentingnya Deteksi Dini
Selain mengenali perubahan pada payudara, pemahaman mengenai faktor risiko juga menjadi bagian dari edukasi kanker payudara.
dr. Patsy menjelaskan bahwa faktor risiko kanker payudara dapat dibagi menjadi faktor yang dapat dikendalikan dan yang tidak dapat dikendalikan. Riwayat keluarga dan faktor genetik termasuk hal yang tidak dapat diubah, sedangkan sejumlah kebiasaan hidup dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan.
Meski demikian, seseorang yang tidak memiliki riwayat kanker dalam keluarga tetap dapat mengalami kanker payudara. Sebaliknya, memiliki anggota keluarga dengan riwayat kanker payudara juga tidak berarti seseorang pasti akan mengalami penyakit yang sama.
“Kanker payudara tidak terjadi hanya karena satu faktor, misalnya karena seseorang tidak menyusui. Penyakit ini bersifat multifaktor, yang berarti banyak faktor dapat berperan bersama-sama,” jelas dr. Patsy.
Karena itu, upaya menjaga kesehatan perlu disertai kewaspadaan terhadap perubahan pada payudara dan pemeriksaan yang sesuai. Deteksi dini penting karena kanker yang ditemukan pada tahap awal umumnya memiliki peluang penanganan yang lebih baik dibandingkan penyakit yang baru diketahui setelah berkembang lebih lanjut.
Sorella dan Lovepink Dorong Kesadaran Kesehatan Payudara
Peningkatan kesadaran mengenai kesehatan payudara juga menjadi bagian dari kolaborasi Sorella Indonesia dan Lovepink melalui kegiatan Comfort in Every Journey.
Marketing Communication PT Megariamas Sentosa, Agnes Dewi, mengatakan bahwa komitmen Sorella terhadap perempuan tidak hanya diwujudkan melalui produk yang mengutamakan kenyamanan, tetapi juga melalui inisiatif yang memberikan manfaat lebih luas.
“Bagi Sorella, memberikan comfort kepada perempuan bukan hanya tentang produk yang nyaman digunakan, tetapi juga tentang bagaimana kami bisa hadir dan memberikan manfaat yang lebih besar. Melalui Maternity Collection, kami ingin mengajak perempuan untuk tetap peduli terhadap kesehatan payudaranya sekaligus turut menjadi bagian dari gerakan ini,” ujar Agnes.
Melalui pembelian Sorella Maternity Collection, konsumen turut berkontribusi dalam mendukung gerakan 10.000 pemeriksaan USG payudara gratis bersama Lovepink. Koleksi tersebut dirancang untuk menemani perempuan selama masa kehamilan hingga menyusui.
Inisiatif ini menjadi bagian dari perjalanan kolaborasi Sorella dan Lovepink selama 11 tahun dalam meningkatkan kesadaran mengenai kanker payudara. Keduanya berharap semakin banyak perempuan mendapatkan informasi yang tepat dan memiliki akses terhadap pemeriksaan kesehatan payudara.
Pada akhirnya, mengenali perubahan payudara sejak dini bukan berarti menganggap setiap benjolan sebagai kanker. Hal terpenting adalah memahami kondisi normal tubuh, tidak mengabaikan perubahan yang tidak biasa, serta berkonsultasi dengan tenaga medis ketika diperlukan.
Kepedulian terhadap kesehatan payudara perlu dilakukan dalam setiap fase kehidupan, termasuk saat hamil dan menyusui. Dengan informasi yang tepat dan pemeriksaan yang sesuai, perempuan dapat mengambil langkah lebih awal untuk menjaga kesehatannya.