Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) menyentil keputusan pemerintah atas kebijakan Work From Home (WFH) atau kebijakan bekerja dari rumah.
Menurutnya kebijakan ini tak berdampak signifikan. Efektivitas kebijakan ini dipertanyakan Jusuf Kalla.
Dia mengatakan kebijakan WFH yang diberlakukan pemerintah untuk seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) hanya menghemat energi yang tak takan ada hubungannya dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) sebab peralatan elektronik yang dipakai di seluruh instansi menggunakan tenaga pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan batu bara.
Baca Juga: Sudah Terbukti Saat Pandemi Covid-19, Pakar Sebut WFH Tak akan Ganggu Produktivitas Perusahaan
"Penghematan energi lewat WFH itu ada dua hal. Kalau di kantor itu penggunaan lampu dan AC. Itu tidak ada hubungannya dengan BBM, karena listrik kita berasal dari PLTU berbahan batu bara, dan kita justru punya batu bara berlebih,” ujar Jusuf Kalla di Jakarta dilansir Kamis (2/3/2026).
Ia menjelaskan, konsumsi energi di perkantoran umumnya bersumber dari listrik, yang di Indonesia sebagian besar masih dipasok oleh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan batu bara.
Dengan demikian, pengurangan aktivitas di kantor tidak serta-merta berdampak pada penurunan konsumsi BBM.
Jusuf Kalla menilai, jika tujuan utama kebijakan WFH adalah untuk menekan penggunaan BBM, maka fokus kebijakan seharusnya lebih diarahkan pada pengurangan mobilitas transportasi, bukan sekadar aktivitas kerja di kantor.
Namun demikian, ia mengisyaratkan perlunya kajian yang lebih komprehensif agar kebijakan penghematan energi dapat tepat sasaran dan memberikan dampak signifikan terhadap konsumsi energi nasional.
Baca Juga: Ancaman Keras Gubernur Pramono: ASN yang WFH di Kafe akan Dibinasakan!
Pernyataan tersebut muncul di tengah kebijakan Pemerintah Pusat yang menetapkan bekerja dari rumah (WFH) bagi ASN baik di pusat maupun di level pemerintah daerah setiap hari Jumat sebagai langkah penghematan energi karena tekanan global terhadap sektor energi dan kenaikan harga minyak dunia