Kebaya merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang sarat akan nilai estetika dan filosofi. Di Bali, kebaya tidak sekadar menjadi busana nasional perempuan, tetapi juga bagian penting dari pakaian adat yang dikenakan dalam berbagai upacara keagamaan.
Keanggunannya mencerminkan kesopanan sekaligus identitas budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Seiring perkembangan zaman, kebaya Bali mengalami transformasi yang cukup signifikan. Dari segi desain, motif, hingga warna, kebaya kini hadir lebih modern dan variatif tanpa meninggalkan nilai tradisionalnya.
Perubahan ini didorong oleh kebutuhan masyarakat untuk tampil menarik, nyaman, sekaligus tetap menghormati norma budaya.
Tidak hanya remaja, perempuan dewasa hingga lanjut usia kini semakin selektif dalam memilih kebaya yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan mereka.
Salah satu jenis kebaya yang semakin diminati adalah kebaya bordir, yang menawarkan keindahan motif serta fleksibilitas desain yang elegan.
Melihat peluang tersebut, Ny. Kadek Ariasih, Anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XLI Yonzipur 18 PD IX/Udayana, merintis usaha bordir dengan nama 'Kembang Pucuk Bordir' sejak tahun 2010.
Berawal dari seorang ibu rumah tangga, ia memberanikan diri membangun usaha untuk membantu perekonomian keluarga.
“Awalnya saya hanya ingin membantu ekonomi keluarga. Dengan modal seadanya dan niat yang kuat, saya mulai usaha ini dari rumah,” ungkap Ny. Kadek Ariasih, dikutip Rabu (8/4/2026).
Dengan modal awal enam mesin bordir dan lima tenaga kerja yang bekerja dari rumah, usaha ini dijalankan dengan sistem sederhana ,namun efektif.
Meski tanpa tempat usaha tetap di awal, Kembang Pucuk Bordir mampu berkembang berkat strategi pemasaran 'jemput bola' yang dilakukan langsung ke konsumen.
Seiring waktu, jangkauan pemasaran pun semakin luas. Produk Kembang Pucuk Bordir kini telah dikenal di berbagai daerah di Bali.
Bahkan, usaha ini turut berpartisipasi dalam berbagai bazar di Bandung dan Jakarta, serta aktif mengikuti pameran di Art Center Denpasar.
Promosi juga dilakukan melalui media sosial Instagram @kembang_pucuk_bordir, yang membantu memperluas jaringan pelanggan.
Dalam satu bulan, Kembang Pucuk Bordir mampu memproduksi rata-rata 50 lembar kain kebaya bordir. Proses produksinya masih mempertahankan sentuhan tradisional dengan peralatan sederhana.
Baca Juga: BPDP Boyong Tiga UMKM Binaan Ramaikan INACRAFT 2026