Sayangnya, angka-angka tersebut anjlok cukup jauh pada tahap penggunaan. Tabungan syariah misalnya, dari 63% orang yang familier, hanya separuhnya (32%) yang mengaku benar-benar menggunakannya. Produk pegadaian syariah (rahn) dan reksa dana syariah juga mengalami penurunan drastis, masing-masing menyisakan 9% dan 10% pengguna. Sementara itu, fintech syariah yang digunakan oleh 26% responden mengalami penurunan yang tidak terlalu dalam, sekitar 12%.

“Secara keseluruhan, 24% konsumen gugur dari fase pengenalan ke fase adopsi produk keuangan syariah. Padahal, hampir separuh pengguna produk keuangan syariah mengaku memiliki pengalaman penggunaan yang positif.”

Nilai dan Kepercayaan Menjadi Alasan Utama Penggunaan

Bagi konsumen yang telah menggunakan produk keuangan syariah, pertimbangan nilai keagamaan menjadi pendorong utama. Sebanyak 54% memilih layanan syariah untuk menghindari riba dan memastikan transaksi tetap halal.

Selain itu, 36% menggunakan produk syariah karena percaya terhadap lembaga penyedianya. Alasan lain mencakup rasa aman secara finansial, dukungan terhadap nilai-nilai agama, serta informasi produk yang dianggap jelas dan transparan.

Persepsi terhadap layanan keuangan syariah juga cenderung positif. Sebanyak 70% pengguna menilai layanan syariah lebih dapat dipercaya, 69% menilai lebih aman, dan 68% melihatnya lebih transparan dibandingkan layanan konvensional.

Baca Juga: Survei Populix: Laki-Laki dan Milenial Lebih Gesit Ikuti Hype Makanan Kekinian

Pertumbuhan Berpeluang Datang dari Penambahan Layanan

Peluang pertumbuhan layanan keuangan syariah masih terbuka. Sebanyak 51% responden menunjukkan minat untuk mencoba atau menambah penggunaan produk keuangan syariah dalam enam bulan ke depan.

Meski demikian, banyak yang tidak memiliki rencana untuk meninggalkan layanan konvensional. Di antara responden yang mempertimbangkan penggunaan layanan syariah, 64% memilih menambahkannya ke layanan keuangan yang sudah digunakan, bukan berpindah sepenuhnya. Hanya sekitar 30% yang benar-benar berencana meninggalkan layanan konvensional.

“Pertumbuhan keuangan syariah tidak melulu tentang perpindahan total. Peluang yang lebih realistis adalah membuat produk syariah cukup relevan dan mudah dipahami sehingga konsumen bersedia menambahkannya ke dalam pilihan instrumen keuangan mereka,” pungkas Indah Tanip.