Tren tersebut berlanjut pada 2026. Hingga Juni 2026, kunjungan wisatawan Australia ke Indonesia tercatat sebanyak 864.750 kunjungan atau meningkat 6,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Industri perjalanan pemuda tetap memiliki potensi besar sebagai kekuatan positif. Selain memberikan dampak ekonomi, segmen ini dapat memperkuat pertukaran pengetahuan, membangun jejaring internasional, serta memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi pembelajaran yang berkualitas," ujar Ni Made Ayu.
Untuk memperluas peluang pasar tersebut, Kemenpar melanjutkan rangkaian promosi dengan menggelar EduTourism Networking Event pada 4 Agustus 2026. Kegiatan ini mempertemukan pelaku industri pariwisata Indonesia dengan mitra industri perjalanan dan pemangku kepentingan pendidikan di New South Wales, Australia.
Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara II Kemenpar, Yulia, mengatakan kegiatan yang berlangsung di Indonesia Residence tersebut mencakup pemaparan produk unggulan wisata edukasi, table-top meeting, sesi networking, serta pertunjukan budaya. Pertemuan tersebut membuka ruang interaksi langsung antara sellers dari Indonesia dengan buyers yang terdiri atas pelaku industri perjalanan dan pemangku kepentingan pendidikan di New South Wales untuk menjajaki peluang perjalanan edukasi ke Indonesia.
Produk yang diperkenalkan antara lain Desa Wisata Wukirsari di Yogyakarta yang menawarkan pembelajaran mengenai seni tradisi, kearifan lokal, dan kerajinan batik berstandar dunia. Sementara Desa Wisata Taro di Bali menghadirkan pengalaman belajar berbasis lingkungan, keberlanjutan, dan pelestarian budaya.
"Melalui keterlibatan industri pariwisata dan desa wisata yang menawarkan produk wisata edukasi berkualitas, kami ingin memberikan lebih banyak pilihan bagi sekolah, universitas, dan pelaku industri wisata edukasi di Australia untuk membawa siswa belajar, mengeksplorasi, dan merasakan pengalaman Indonesia secara langsung," kata Yulia.
Konsul Jenderal RI Sydney, Pendekar Muda Leonards Sondakh, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan bukan hanya sebagai destinasi liburan, tetapi juga sebagai tujuan perjalanan yang menyediakan beragam ruang pembelajaran. Melalui program seperti Indonesia Goes to School dan wisata edukasi, generasi muda Australia dapat mengenal secara langsung budaya, tradisi, kehidupan masyarakat, dan keberagaman Indonesia.
"Desa-desa wisata Indonesia dapat menjadi ruang belajar yang hidup, tempat para siswa belajar langsung dari masyarakat sekaligus melihat bagaimana budaya, kreativitas, keberlanjutan, dan ekonomi lokal saling terhubung. Melalui pengalaman yang bermakna ini, kami berharap dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, memperdalam pemahaman, serta memperkuat hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Australia," ujar Leonards.
Kolaborasi Kemenpar, KJRI Sydney, Garuda Indonesia, desa wisata, dan industri perjalanan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pasar pariwisata berkualitas Indonesia melalui wisata edukasi. Selain membuka peluang kunjungan wisatawan muda Australia, pengembangan segmen ini diharapkan memperluas manfaat pariwisata hingga ke masyarakat desa melalui aktivitas budaya, ekonomi kreatif, dan pengalaman belajar berbasis kearifan lokal.