Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad menilai Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka punya pandangan yang sangat berbeda mengenai implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Saidiman, Wapres Gibran sebenarnya sepakat dengan MBG, namun ia ingin supaya program ini diprioritaskan buat masyarakat yang benar-benar tidak mampu, artinya MBG tidak harus menyasar seluruh siswa di semua sekolah di Indonesia. Namun Prabowo tetap ngotot supaya MBG harus merata di seluruh sekolah.
Baca Juga: Jokowi Menabuh Genderang Perang, Prabowo Ditantang di Sarang Garuda Merah
"Ternyata presiden dan wakil presiden memiliki pandangan yang berbeda soal implementasi program MBG. Wapres menginginkan target MBG hanya pada kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi terendah, sementara presiden ingin semua diberi makan,” kata Saidiman dilansir dari X pribadinya, Rabu (30/9/2026).
Tak hanya soal implementasi, perbedaan pandangan terkait MBG juga menyasar pengelolaan dapur MBG. Menurut dia, Gibran menginginkan keterlibatan dapur warga di sekitar sekolah, sedangkan pelaksanaan program saat ini menggunakan konsep dapur terpusat.
"Wapres ingin pelaksanaan MBG melibatkan dapur-dapur warga di sekitar sekolah seperti kantin sekolah, sementara pelaksanaannya justru menggunakan konsep dapur terpusat yang sebagian besarnya dikelola militer dan polisi. Yang menarik, perbedaan ini tidak sungkan diungkapkan ke publik," tegasnya.
Dari perbedaan pandangan mengenai MBG tersebut, Saidiman kemudian menarik pembacaan politik yang lebih luas. Ia menilai situasi tersebut menunjukkan bahwa kekuasaan Prabowo belum sepenuhnya terkonsolidasi di kalangan elite.
"Dari sekian lembar tafsir politik yang bisa dibaca dari sini, yang paling penting untuk sementara adalah bahwa ternyata kekuasaan Prabowo tidak sepenuhnya terkonsolidasi di kalangan elit" ucapnya.
Saidiman kemudian mengaitkan pandangannya dengan kondisi legitimasi politik pemerintah di tingkat akar rumput yang menurutnya tercermin dalam survei opini publik.
"Runtuhnya legitimasi politik presiden di tingkat akar rumput, sebagaimana yang terpotret dalam survei opini publik, rupanya bergema jauh dan membuat loyalitas elit mulai retak," ucapnya.
Ia juga menyebut sejumlah pernyataan politik belakangan ini sebagai bagian dari gejala yang menurutnya perlu dibaca secara bersamaan, termasuk pernyataan Gibran mengenai MBG, pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat mengenai demokrasi, serta pernyataan Ketua Umum PAN mengenai program tersebut.
Baca Juga: Politik Nasi Goreng Part III yang Tertunda: Kapan Mega-Prabowo Duduk Semeja Lagi?
"Ungkapan Wapres pada korban MBG ini, lalu pidato ketua Demokrat tentang demokrasi, juga pernyataan Ketua PAN mengenai MBG adalah gejala politik yang penting dibaca dalam satu tarikan nafas," pungkas Saidiman.