Akademisi dan praktisi bisnis, Rhenald Kasali mengatakan China menjadi salah satu contoh negara yang mampu keluar dari kemiskinan dan menjadi salah satu negara yang sekarang ini menjadi salah satu pusat kekuatan ekonomi global. China mampu melakukan itu bahkan dalam berbagai keterbatasan.
Sebagaimana diketahui bersama, sebelum menjadi seperti yang sekarang ini, China dihadapkan pada berbagai persoalan yang kesemuanya berakar dari kemiskinan, bencana alam hingga perang saudara menjadi hambatan utama di dalam internal negara itu, di sisi lain tekanan ekonomi dari Amerika Serikat (AS) juga menjadi penghambat lain yang membuat China semakin terpojok.
Baca Juga: Revolusi Cina: Negara Komunis Miskin dan Tertutup Kini Jadi Negerinya Para Jutawan
Kendati demikian tekan besar itu tak menjadikan China sebagai bangsa lemah yang sukar berkembang, justru deretan masalah tersebut justru menjadi pelecut semangat. China terus berbenah dan mampu keluar dari persoalan-persoalan tersebut, sekarang China menjadi salah satu pesaing berat AS dalam berbagai bidang baik ekonomi maupun teknologi.
“Semakin dihambat, semakin hebat. Dikasih keterbatasan, tidak boleh pakai microchip buatan Amerika, ternyata bisa bikin dipsik yang mencengangkan dunia. Kok bisa ya? Padahal dia pakai microchip yang sudah ketinggalan, kok bisa? Dan akhirnya China mulai membangun AI-nya,” kata Rhenald dilansir Olenka.id Jumat (13/3/2026).
Bagi Rhenald China mampu menghadapi berbagai tantangan tersebut karena para pemimpinnya mampu membangun nilai yang dipadu dengan berbagai faktor lain seperti etos kerja, sains hingga pendidikan.
Kemampuan membangun nilai itulah yang mengantarkan China pada gerbang kesuksesan dan kini mereka menjadi bangsa kuat di berbagai bidang. China yang sekarang bukan lagi menjadi bangsa yang bisa dipandang enteng bangsa lain, mereka telah menguasai dunia lewat kekuatan ekonomi hingga kemajuan teknologi.
Baca Juga: Tolak Dialog dengan AS-Israel, Pemerintah Iran: Kami Terus Menghujani Mereka dengan Rudal
"Jadi ini gambarannya, tentu saja. Bagaimana mereka membangun nilai-nilai. Bahwa ini adalah perpaduan dari beragam. Sains dari barat, etos kerja dari China, dan sebagainya,” pungkas Rhenald.