Growthmates, kalsium selama ini dikenal sebagai mineral penting untuk menjaga kesehatan dan kekuatan tulang. Namun, manfaat kalsium ternyata jauh lebih luas.
Mineral ini juga berperan penting dalam menjaga fungsi saraf dan kontraksi otot. Ketika kadar kalsium dalam darah terlalu rendah, tubuh dapat mengalami gangguan, mulai dari kesemutan, kedutan otot, kram, hingga kejang.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Widya Khairunnisa, MSc, menjelaskan, kalsium memiliki peran penting dalam mengatur komunikasi antara saraf dan otot. Mineral ini membantu saraf mengirimkan sinyal yang diperlukan tubuh untuk menggerakkan otot.
“Kalsium tidak hanya dikenal sebagai mineral pembentuk tulang, ia juga membantu mengatur bagaimana saraf mengirimkan sinyal kepada otot,” jelas dr. Widya, dikutip dari laman resmi IPB University, Jumat (6/11/2026).
dr. Widya menerangkan, saraf dapat diibaratkan seperti kabel listrik yang bertugas mengirimkan sinyal untuk memerintahkan otot bergerak. Dalam proses tersebut, saraf memiliki ambang rangsangan tertentu sebelum menghasilkan impuls listrik.
Namun, ketika kadar kalsium dalam darah menurun terlalu rendah atau mengalami hipokalsemia, ambang rangsangan tersebut ikut menurun. Kondisi ini membuat saraf menjadi lebih mudah menghasilkan impuls listrik, bahkan ketika hanya menerima rangsangan kecil.
Akibatnya, otot yang menerima sinyal dari saraf dapat berkontraksi secara berlebihan dan berulang tanpa disadari atau dikehendaki. Inilah yang kemudian dapat memicu kram hingga kejang otot.
dr. Widya melanujutkan, gejala hipokalsemia juga tidak selalu ditandai dengan kram pada betis. Pada kondisi tertentu, kekurangan kalsium dapat menimbulkan kesemutan di sekitar mulut atau ujung jari, kedutan otot, hingga kram pada tangan dan kaki. Bahkan, tangan bisa tiba-tiba mencengkeram atau menekuk akibat kontraksi otot yang tidak terkendali.
Meski demikian, dr. Widya mengingatkan bahwa kram maupun gerakan tubuh menyerupai kejang tidak selalu menandakan seseorang kekurangan kalsium. Ada sejumlah kondisi lain yang dapat memunculkan gejala serupa.
Di antaranya kekurangan magnesium atau natrium, dehidrasi berat, gangguan keseimbangan elektrolit, hingga kadar gula darah yang sangat rendah. Gangguan pada otak, seperti stroke, infeksi otak, dan cedera kepala, juga dapat memicu kejang. Selain itu, efek obat-obatan, keracunan, serta gangguan ginjal dan hati yang berat dapat menyebabkan keluhan serupa.
Baca Juga: 7 Gejala Kekurangan Kalsium pada Wanita yang Sering Disangka karena Penuaan
Menurut dr. Widya, hipokalsemia juga tidak selalu terjadi akibat kurangnya konsumsi makanan yang mengandung kalsium. Sebab, tubuh memiliki mekanisme tersendiri untuk menjaga keseimbangan kadar kalsium dalam darah melalui kerja kelenjar paratiroid, vitamin D, dan ginjal.
Kelenjar paratiroid menghasilkan hormon paratiroid atau PTH yang berfungsi membantu mempertahankan kadar kalsium dalam darah. Sementara itu, vitamin D berperan penting dalam membantu penyerapan kalsium dari makanan melalui usus.
“Jadi seseorang dapat mengonsumsi kalsium, tetapi bila vitamin D sangat rendah, penyerapannya tetap tidak optimal,” terang dr. Widya.
Selain kekurangan vitamin D, penyakit ginjal berat juga dapat mengganggu keseimbangan kalsium dan fosfat dalam tubuh. Gangguan pada saluran pencernaan pun berpotensi membuat penyerapan kalsium tidak berlangsung optimal.
Sejumlah kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipokalsemia. Kondisi tersebut antara lain dapat terjadi pada orang yang pernah menjalani operasi tiroid, paratiroid, atau leher, memiliki kekurangan vitamin D, mengalami malnutrisi, serta menderita penyakit ginjal atau hati kronis. Risiko juga meningkat pada orang dengan kekurangan magnesium maupun gangguan penyerapan nutrisi di usus.
Untuk mencegah kekurangan kalsium, dr. Widya menyarankan agar kebutuhan mineral tersebut dipenuhi terutama melalui konsumsi makanan bergizi seimbang. Kebutuhan kalsium orang dewasa secara umum sekitar 1.000 miligram per hari.
Dipaparkan dr. Widya, berbagai bahan pangan dapat menjadi sumber kalsium, mulai dari susu, yogurt, keju, sarden, tahu yang diproses menggunakan kalsium, hingga sayuran hijau. Kalsium juga bisa diperoleh dari makanan dan minuman yang telah difortifikasi atau diperkaya dengan mineral tersebut.
Selain memastikan kecukupan asupan kalsium, menjaga kadar vitamin D juga tidak kalah penting. Pasalnya, vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium secara optimal sehingga keseimbangan mineral tetap terjaga.
“Selain kalsium, kadar vitamin D juga perlu dipertahankan karena vitamin D membantu usus menyerap kalsium,” pungkasnya.
Baca Juga: 7 Jenis Makanan dengan Kandungan Kalsium Lebih Banyak daripada Susu