Pengamat politik dan militer Universitas Nasional (UNAS), Selamat Ginting mengatakan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto terindikasi melibatkan orang-orang di dalam  istana.

Ia mengatakan, penyadapan itu mustahil bisa sukses terlaksana  jika itu hanya dilakukan eks Kapolri Listyo Sigit Prabowo Cs tanpa adanya bantuan dari orang-orang di sekitar presiden. 

Baca Juga: Kelakuan Listyo Sigit Cs Terbongkar, PDI-P Desak Prabowo Sterilkan Kabinet dari Geng Solo

Ginting lantas menyoro siapa yang mengelola ponsel Presiden Prabowo, jaringan penyedia layanan komunikasi yang digunakan, serta bagaimana sistem keamanan komunikasi kepala negara selama ini dijalankan.

“Kira-kira siapa yang memegang handphone-nya Presiden? Provider mana? Apakah yang disadap dari emailnya, dari suara, gelombang, atau lain-lain,” kata Ginting dilansir Jumat (6/10/2026). 

Lantaran adanya indikasi keterlibatan orang-orang sekitar presiden dalam aksi sabotase tersebut, Ginting meminta Prabowo agar lekas bersih-bersih ring satu, jangan sampai di dalam istana sendiri justru ada pengkhianat. 

"Menurut saya juga istana harus bersih-bersih diri dari ring satunya,” kata Ginting.

Di mata Ginting, dugaan penyadapan terhadap kepala negara bukan persoalan kecil. Keamanan komunikasi Presiden merupakan bagian penting dari pertahanan dan perlindungan negara.

Bareskrim Polri telah menetapkan empat orang tersangka dalam kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Baca Juga: Pernyataan Istana Keras, Politik Busuk Listyo Sigit Cs Bakal Dilawan Habis-habisan

Keempat tersangka tersebut meliputi Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo (mantan Kapolri/ eks Kepala Staf Kepresidenan), Irjen Ahrie Sonta Nasution (Kepala Divisi Hukum Polri), Irjen Eko Hadi Santoso (Widyaiswara Kepolisian Utama TK I Sespim Lemdiklat Polri), dan Irjen Slamet Uliandi (Dewan Pembina Monitoring Center Bareskrim Polri/ mantan Kabag Monitoring Bareskrim).