Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebut tidak akan buru-buru memilih satu jalur politik untuk menghadapi Pemilu 2029. Alih-alih mengunci pilihan sejak awal, Jokowi dinilai lebih mungkin menyiapkan sejumlah skenario sekaligus sambil melihat perkembangan peta politik.

Kepala Badan Riset PDI Perjuangan (PDIP) Andi Widjajanto mengatakan, pola tersebut merupakan karakter Jokowi dalam membaca politik. Menurutnya, Jokowi terbiasa menyiapkan lebih dari satu kemungkinan sebelum menentukan langkah yang dianggap paling menguntungkan.

"Pak Jokowi yang saya pahami selalu tidak pernah punya skenario tunggal. Tidak hanya skenario A. Dia akan punya skenario bahkan lawannya A, atau skenario alternatif dari A," kata Andi dalam tayangan YouTube Hendri Satrio Official, dikutip Rabu (09/09/2026).

Baca Juga: AHY Ngomong Kekuasaan Tak Selamanya, Lagi Sindir Jokowi?

Dengan pola tersebut, berbagai jalur politik bisa saja dijalankan secara bersamaan. Masing-masing jalur akan bergerak dengan strategi dan targetnya sendiri. Perkembangannya kemudian dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan pilihan.

Andi menggambarkan setiap tim atau kelompok yang bergerak sebagai bagian dari skenario yang berbeda. Ada yang lebih cepat bergerak, lebih siap, memiliki peluang kemenangan lebih besar, atau justru membawa risiko politik lebih kecil.

"Tim yang dinilai paling siap, paling cepat bergerak, serta memiliki peluang terbesar pada akhirnya bisa menjadi pilihan," ujarnya.

Karena itu, menurut Andi, bukan tidak mungkin Jokowi saat ini atau ke depan akan menyiapkan beberapa kendaraan politik untuk menghadapi 2029. Pilihannya bisa datang dari berbagai arah, mulai dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), kelompok mantan relawan, hingga jaringan yang dibangun para mantan menteri.

Prabowo Subianto juga disebut masih bisa masuk dalam kalkulasi tersebut. Kerja sama dengan Presiden Prabowo bukan sesuatu yang sepenuhnya tertutup apabila perkembangan politik nantinya membuat jalur tersebut menjadi pilihan yang paling menguntungkan.

Bagi Andi, ukuran akhirnya bukan sekadar siapa yang paling dekat dengan Jokowi. Peluang kemenangan dan risiko politik yang mungkin muncul justru menjadi faktor penting dalam menentukan kartu mana yang akan dimainkan.

"Nanti dilihat saja, mana yang peluangnya paling bagus, paling besar, dan risiko politiknya ke Pak Jokowi paling kecil," imbuhnya.

Baca Juga: Pendukung Jokowi Ngarep Prabowo Kembali Gandeng Gibran di 2029, Amien Rais Nyeletuk: Mustahil Fufufafa Diajak Lagi!

Gibran-Anies Bisa Jadi Kejutan

Gambaran mengenai banyaknya skenario tersebut membuat kemungkinan konfigurasi politik menuju 2029 menjadi semakin terbuka. Bahkan, Andi menyebut pasangan yang hari ini terlihat sulit dibayangkan pun bukan mustahil muncul dalam politik lima tahun mendatang.

Salah satu contohnya adalah kemungkinan Gibran Rakabuming Raka berada dalam satu konfigurasi politik dengan Anies Baswedan.

Dua nama tersebut selama ini berada di kubu politik yang berbeda. Gibran merupakan Wakil Presiden terpilih pada Pilpres 2024 yang berpasangan dengan Prabowo, sementara Anies menjadi salah satu rival dalam kontestasi tersebut.

Namun, menurut Andi, dinamika politik dapat mengubah peta tersebut.

"Ini mungkin kondisi yang bisa tiba-tiba ya, Gibran-Anies. Dan bisa saja Aniesnya mau, namanya politik," kata Andi.

Baca Juga: Era Prabowo Dinilai Lebih Demokratis, Pemerintahan Jokowi Kurang

Kemungkinan tersebut menjadi gambaran bahwa peta menuju 2029 belum bisa dibaca hanya berdasarkan hubungan politik saat ini. Pergeseran kepentingan, perubahan kekuatan antarpartai, hingga peluang kemenangan dapat membuat tokoh-tokoh yang sebelumnya berseberangan justru memiliki ruang untuk bekerja sama.

Dengan waktu menuju Pemilu 2029 yang masih cukup panjang, berbagai skenario tersebut masih sebatas kemungkinan. Namun, jika pola politik Jokowi seperti yang digambarkan Andi tetap digunakan, mantan Presiden itu kemungkinan tidak akan hanya memegang satu kartu.

Sejumlah jalur dapat dibiarkan bergerak lebih dulu. Pada akhirnya, kartu dengan peluang kemenangan paling besar dan risiko politik paling kecil yang berpotensi dimainkan Jokowi.