Dari pemeriksaan intensif tersebut ditemukan bahwa Dyto memiliki faktor risiko terkait kebutuhan elektrolit tubuh yang berbeda.

Kondisi tersebut menjadi masalah ketika ia melakukan aktivitas dengan intensitas sangat tinggi dan terlalu sering memaksakan batas kemampuan tubuh.

Namun, saat melakukan aktivitas dengan intensitas ringan hingga sedang, kondisi Dyto tetap baik.

“Kalau misalkan larinya intensitas ringan, Dito tuh tidak ada gejala apa pun. Sehat, EKG-nya bagus, jantungnya sehat, bahkan MRI juga bagus. Cuma ketika Dito ini nge-push limit banget, terlalu sering, dan akhirnya kekurangan elektrolit, ternyata ada gambaran aritmia lagi,” ungkap Dokter Tirta.

Karena kondisi tersebut, kata Dokter Tirta, Dyto untuk sementara tidak diperbolehkan mengikuti perlombaan yang menuntut performa maksimal.

Fokus latihannya diarahkan pada peningkatan kapasitas aerobik, memperbanyak latihan ringan, serta menjalani pemantauan rutin bersama dokter dan pelatih.

Menurut Dokter Tirta, kejadian Dyto menjadi pelajaran penting bagi banyak pelari. Kemampuan fisik tinggi tidak selalu menjadi jaminan bahwa seseorang terbebas dari risiko kesehatan.

“Secara sekilas kita melihat banyak olahragawan yang sangat kencang di sekitar kita. Tapi kita nggak tahu kesehatan jantungnya,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan para pelari yang sudah memiliki target waktu tinggi atau sering melakukan latihan berat untuk melakukan pemeriksaan jantung secara berkala.

“Buat teman-teman yang larinya sudah kencang, sudah tinggi, dan sudah ada target waktu, usahakan cek jantung terlebih dahulu,” kata Dokter Tirta.

Selain pemeriksaan kesehatan, ia juga menekankan pentingnya setiap komunitas olahraga memahami protokol kegawatdaruratan.

Menurutnya, klub lari tidak hanya perlu membangun kemampuan fisik anggotanya, tetapi juga kesiapan menghadapi situasi darurat seperti kolaps saat berolahraga.

Dokter Tirta mengapresiasi tindakan cepat anggota SAC yang menerapkan protokol pertolongan sehingga Dyto bisa segera mendapatkan bantuan.

“Terima kasih buat Kevin Laude dan Agung yang sudah mengamalkan protokol kegawatdaruratan yang saya share dan dokter Agi share, sehingga dia bisa menolong Dito,” pungkas Dokter Tirta.

Baca Juga: Dokter Tirta Beri Kritik dan Masukan untuk Pemerintah, Ini Poin-poinnya