Growthmates, ampela ayam kerap menjadi pilihan lauk favorit karena teksturnya yang khas dan mudah diolah menjadi beragam hidangan. Selain lezat, jeroan ini juga mengandung sejumlah zat gizi penting, mulai dari protein, zat besi, vitamin B12, hingga zink. Namun, di balik manfaat tersebut, ampela ayam memiliki kandungan kolesterol yang relatif tinggi sehingga konsumsinya perlu diperhatikan.

Dosen Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Muhammad Aries, SP, MSi, menjelaskan bahwa ampela ayam tetap dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi.

Meski tergolong jeroan, kata dia, bahan pangan ini memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dan relatif rendah lemak total dibandingkan banyak jenis jeroan lainnya.

“Ampela ayam dapat dikategorikan sebagai pangan bergizi tinggi. Dalam 100 gram ampela ayam matang, terdapat sekitar 30,4 gram protein, 3,2 miligram zat besi, 1 mikrogram vitamin B12, dan 4,4 miligram zink,”papar Aries, dikutip dari laman IPB University, Jumat (16/10/2026).

Kandungan tersebut memberikan sejumlah manfaat bagi tubuh. Protein berperan dalam pembentukan dan perbaikan jaringan, sedangkan zat besi dibutuhkan untuk membantu pembentukan sel darah merah.

Vitamin B12 mendukung fungsi saraf dan pembentukan sel darah, sementara zink berperan dalam menjaga fungsi sistem kekebalan tubuh.

Meski memiliki kandungan gizi yang beragam, Aries mengingatkan bahwa nilai gizi yang tinggi tidak serta-merta membuat ampela ayam ideal dikonsumsi setiap hari dalam jumlah besar. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kandungan kolesterolnya.

“Ampela mengandung kolesterol cukup tinggi, sehingga konteks keseluruhan pola makan lebih penting daripada menilai satu bahan makanan secara terpisah,” paparnya.

Menurut Aries, dalam setiap 100 gram ampela ayam matang terdapat sekitar 370 miligram kolesterol. Jumlah tersebut tergolong tinggi jika dibandingkan dengan batas asupan kolesterol kurang dari 300 miligram per hari yang pernah digunakan dalam panduan diet Amerika Serikat.

Baca Juga: Daging Ayam Kampung vs Broiler, Mana yang Lebih Bergizi?

Meski batas tersebut tidak lagi dicantumkan dalam pedoman diet Amerika Serikat saat ini, kandungan kolesterol dalam makanan tetap perlu diperhatikan sebagai bagian dari pola makan seimbang. Terlebih, kebutuhan dan kondisi kesehatan setiap orang berbeda-beda.

Orang dengan kadar kolesterol darah tinggi, penyakit jantung, atau gangguan asam urat perlu lebih cermat dalam menentukan porsi dan frekuensi konsumsi ampela. Kandungan purin pada jeroan juga menjadi pertimbangan bagi mereka yang memiliki masalah asam urat.

Karena itu, mengonsumsi ampela ayam bukan semata-mata persoalan boleh atau tidak, melainkan bagaimana mengatur jumlah dan frekuensinya.

Bagi orang sehat, ampela tidak harus dihindari sepenuhnya, tetapi sebaiknya dijadikan lauk variasi dan bukan sumber protein utama setiap hari.

“Jadi, ampela tidak perlu dihindari sepenuhnya oleh orang sehat. Namun, karena kombinasi kolesterol tinggi dan statusnya sebagai jeroan kaya purin, ampela lebih tepat diposisikan sebagai lauk variasi, bukan makanan harian atau lauk dalam porsi besar,” kata Aries.

Selain memperhatikan porsi, cara memasak juga berpengaruh terhadap kualitas hidangan. Aries menyarankan ampela ayam diolah dengan metode yang tidak membutuhkan banyak tambahan lemak, seperti direbus, dipanggang, atau ditumis menggunakan sedikit minyak.

Baca Juga: Jangan Asal Makan, Ikan Kakap Bisa Berbahaya dalam Kondisi Ini