1. Menurunkan Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko kondisi seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Selain pengobatan dan perubahan gaya hidup, latihan pernapasan juga dinilai dapat membantu mengendalikan tekanan darah.

Teknik pernapasan lambat, yaitu bernapas kurang dari 10 kali per menit dengan ritme yang teratur, diketahui dapat memberikan efek relaksasi pada tubuh. Cara ini membantu meningkatkan produksi endorfin, menurunkan hormon adrenalin, serta mendukung penurunan tekanan darah.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan hasil yang menjanjikan. Tinjauan terhadap 17 studi menemukan bahwa latihan pernapasan lambat atau terkontrol berpotensi menjadi cara yang efektif untuk membantu mengelola hipertensi, terutama pada orang dengan prahipertensi atau yang memiliki faktor risiko penyakit jantung ringan. 

Bahkan, metode ini dinilai dapat menjadi pendamping terapi, khususnya bagi mereka yang masih berusia muda dan ingin mengurangi ketergantungan pada obat-obatan.

Baca Juga: Kenapa Smoothie Baik Dikonsumsi di Pagi Hari? Ternyata Ini Manfaatnya untuk Metabolisme!

  1. Meredakan gejala PPOK

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan kelompok penyakit paru kronis yang menyebabkan aliran udara ke paru-paru menjadi terbatas. Akibatnya, penderita sering mengalami sesak napas dan kesulitan beraktivitas.

Karena itu, latihan pernapasan kerap menjadi bagian dari program rehabilitasi paru bagi penderita PPOK. 

Salah satu teknik yang paling sering dianjurkan adalah pernapasan diafragma, disertai teknik lain seperti pursed-lip breathing (pernapasan dengan bibir mengerucut) untuk membantu meningkatkan efisiensi kerja paru-paru dan kadar oksigen dalam tubuh.

Sejumlah penelitian menunjukkan, latihan pernapasan dapat membantu memperbaiki fungsi paru-paru, meningkatkan daya tahan saat beraktivitas, memperkuat otot pernapasan, serta mengurangi rasa sesak napas.