Di tengah sorotan terhadap kinerja Kabinet Merah Putih, Presiden Prabowo Subianto justru memberikan pujian terbuka kepada salah satu menterinya. Bukan Menteri Keuangan, bukan pula Menteri Sekretaris Negara atau menteri lain yang kerap menjadi sorotan, melainkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Prabowo bahkan menyebut Amran sebagai menteri yang “hebat” karena dinilai mampu membawa target swasembada pangan melaju jauh lebih cepat dari rencana awal pemerintah.
Pujian itu disampaikan Prabowo ketika menyinggung target swasembada pangan yang ia tetapkan sejak awal masa pemerintahannya. Menurutnya, semula target tersebut dipatok empat tahun. Namun, pelaksanaannya dipercepat hingga satu tahun, terutama dalam pencapaian swasembada beras.
“Saya beri waktu tadinya swasembada pangan 4 tahun. Tapi terus terang aja saya harus mengakui saya punya tim pertanian, saya punya Menteri Pertanian yang hebat,” kata Prabowo.
Baca Juga: Cetus Prabowo: Masa Depan Indonesia Cerah!
Pernyataan tersebut bukan sekadar pujian sesaat. Pemerintah memang sebelumnya menyatakan target swasembada beras yang semula dirancang empat tahun kemudian dipercepat menjadi satu tahun. Pada November 2025, Amran bahkan melaporkan kepada Presiden bahwa target tersebut ditargetkan tercapai pada akhir tahun.
Yang membuat pujian Prabowo terhadap Amran semakin menarik, Presiden mengaku sebelumnya tidak mengenal sosok yang kini menjadi Menteri Pertanian tersebut.
Prabowo mengatakan, Amran bukan berasal dari partainya dan mereka sebelumnya tidak saling mengenal. Namun, setelah beberapa kali melihat pemikiran serta pidato Amran, Prabowo mengaku menemukan kecocokan dengan target yang ingin dicapai pemerintah.
“Kebetulan saya tadinya nggak kenal dia. Dia bukan partai saya, saya benar-benar saya tidak kenal Pak Amran. Tapi saya 2-3 kali saya lihat pemikiran pidato dia, ini cocok. Dari 4 tahun, dia bisa hasilkan swasembada pangan 1 tahun. Ini kan luar biasa,” ujarnya.
Baca Juga: Kanda Bahlil Digoda Zulhas: Biar Prabowo Aja, Jadi Presiden itu Berat!
Di titik inilah nama Amran mendapat sorotan khusus. Sebab, percepatan target empat tahun menjadi satu tahun bukan hanya diklaim sebagai hasil kerja Kementerian Pertanian, tetapi juga disebut pemerintah sebagai hasil kerja bersama yang melibatkan petani, penyuluh, pemerintah daerah, serta sejumlah kementerian dan lembaga.
Dalam laporan pemerintah, percepatan tersebut didukung antara lain oleh pembenahan regulasi, akses pupuk, pembiayaan, serta koordinasi lintas sektor. Amran sendiri sebelumnya menyebut perubahan target terjadi secara bertahap: dari empat tahun menjadi tiga tahun, kemudian dipercepat lagi menjadi satu tahun.
Namun, pujian Prabowo tidak berhenti pada kinerja Amran. Presiden juga menyentil pihak-pihak yang menurutnya masih enggan mengakui capaian pemerintah di sektor pangan.
Prabowo mengaku sedih ketika ada pihak yang tidak mengakui apa yang ia sebut sebagai prestasi bangsa.
“Yang saya sedih ya, ini ada pakar-pakar yang menganggap dirinya pinter apa, dia tidak mau mengakui prestasi bangsa. Padahal dia nikmati,” ungkap Prabowo.
Pernyataan semacam itu sebelumnya juga muncul dalam pidato Prabowo ketika mengumumkan tercapainya swasembada pangan 2025. Saat itu, ia menyebut ada sebagian elite yang menurutnya lebih banyak mengejek dan mengkritik dibanding mengakui keberhasilan bangsa.
Bagi Prabowo, urusan swasembada pangan bukan sekadar soal apakah produksi beras dalam negeri cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Ia melihat ketahanan pangan sebagai bagian dari ketahanan nasional, terutama ketika dunia menghadapi konflik dan gangguan rantai pasok.
“Kita swasembada pangan berarti kita relatif aman menghadapi banyak masalah. Kita bayangkan kalau perang di Timur Tengah dan di mana-mana, kalau kita nggak swasembada pangan, bagaimana coba?” kata Prabowo.
Pandangan tersebut sejalan dengan alasan pemerintah yang menempatkan swasembada sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan pangan dari negara lain. Dalam pengumuman swasembada pangan 2025, Prabowo menekankan bahwa ketergantungan terhadap negara lain untuk kebutuhan pangan dapat menjadi persoalan ketika negara-negara produsen menahan ekspor demi kepentingan domestiknya masing-masing.
Menariknya, beberapa bulan setelah pemerintah mengklaim pencapaian tersebut, Amran kembali menyebut swasembada pangan dan kesepakatan ekspor beras sebagai salah satu capaian yang dibawa Kementerian Pertanian pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI pada Agustus 2026. Ia kembali menegaskan bahwa target empat tahun berhasil dipercepat menjadi satu tahun.