Direktur eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, mengapresiasi Danantara Indonesia yang telah menyampaikan rampungnya laporan keuangan Tahun Buku 2025 dari seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ia berharap Danantara bisa melanjutkan transformasi fundamental bisnis dan konsolidasi sektoral agar BUMN bisa lebih produktif.
"Menurut saya, kita apresiasi jika banyak BUMN meningkatkan keuntungannya dan berhasil pulih dari kerugian berkat transformasi, perampingan serta pemangkasan lapisan manajemen, dan efisiensi biaya operasional secara besar-besaran," kata Esther saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Baca Juga: Konsolidasi Laporan Keuangan Dinilai Bisa Perkuat Fondasi Tata Kelola Danantara Indonesia
Sebelumnya, Danantara telah menyampaikan adanya peningkatan kinerja sejumlah BUMN sepanjang April 2025–April 2026, mulai dari kenaikan laba hingga keberhasilan beberapa perusahaan pelat merah berbalik dari rugi menjadi untung. Namun, Danantara juga menyampaikan penyusunan laporan keuangan konsolidasi masih memasuki tahapan audit. Laporan keuangan final akan dipublikasikan setelah seluruh proses audit selesai dilaksanakan.
Esther yang juga menjadi dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Diponegoro, ini mengatakan bahwa perbaikan laba BUMN saja masih belum cukup untuk dijadikan ukuran keberhasilan transformasi. "Selain pertumbuhan laba, indikator keberhasilan lain bisa dilihat dari kemampuan perusahaan itu memperkuat daya saing dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan,” ujarnya.
Di sisi lain, Esther menekankan bahwa keberlanjutan tren positif kinerja BUMN sangat bergantung juga pada iklim investasi yang sehat. Upaya menuju ke sana, katanya, harus dipastikan dan disiapkan regulasi yang kondusif untuk investasi. Menurut Esther, kepastian regulasi dan tata kelola yang baik akan menjadi faktor penting agar transformasi BUMN tidak hanya menghasilkan kinerja jangka pendek, tetapi juga memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. “Dalam hal ini kepastian hukum diperlukan agar investor bisa berinvestasi dengan nyaman," ujarnya.
Menanggapi keberhasilan turnaround sejumlah BUMN seperti Krakatau Steel dan Kimia Farma, Esther menilai, restrukturisasi yang didukung Danantara Asset Management (DAM) telah memberikan hasil nyata. "Mengingat suntikan dana restrukturisasi yang diberikan oleh Danantara Asset Management sukses membuat BUMN seperti Krakatau Steel dan Kimia Farma berbalik dari posisi rugi menjadi mencetak laba," katanya.
Terkait pengelolaan dividen BUMN yang mulai diinvestasikan ke berbagai proyek strategis, Esther menilai, langkah tersebut sudah berada di jalur yang tepat selama berorientasi pada manfaat jangka panjang. "Memang dividen BUMN kini mulai dialihkan pengelolaannya melalui BPI Danantara seharusnya diinvestasikan kembali ke proyek strategis yang berdampak pada masyarakat luas dan jangka panjang," ujar alumnus Maastricht University ini.
Lebih jauh Esther juga mendukung fokus investasi pada transisi energi hijau dan pembangunan infrastruktur dasar. Ia mengingatkan semua itu harus bisa memberikan dampak luas bagi masyarakat. “Mengingat transisi energi hijau menjadi salah satu alternatif mengurangi ketergantungan pada energi fosil, di mana Indonesia menjadi net importer oil. Untuk itu, investasi perlu diarahkan pada upaya memperkuat ekspor melalui pengembangan hilirisasi industri agar komoditas dapat diolah menjadi produk bernilai tambah,” tuturnya.