Saat tubuh terasa pegal, stres, atau kepala mulai cenut-cenut, menyeduh secangkir teh hangat sering kali jadi rujukan utama untuk menenangkan diri. Sebagai minuman paling populer kedua di dunia setelah air putih, teh memang punya segudang manfaat, mulai dari meredakan gejala flu hingga mengurangi kecemasan.

Namun, khusus untuk urusan sakit kepala, hubungan antara teh dan tubuh kita ternyata cukup paradoksal. Teh bisa menjadi penawar, namun di saat bersamaan juga bisa menjadi pemicu utama sakit kepala tergantung jenis teh dan sensitivitas tubuh orang yang meminumnya.

Kandungan Teh yang Bisa Jadi Pemicu Sakit Kepala

Melansir dari laman Health, berdasarkan penjelasan para ahli gizi, ada beberapa zat alami di dalam teh yang wajib kamu waspadai jika sering mengalami sakit kepala.

Baca Juga: Bisakah Minuman Manis Seperti Kopi dan Teh Penuhi Kebutuhan Cairan Tubuh?

“Teh tertentu, seperti matcha, teh hitam, oolong, Earl Grey, dan lainnya, mengandung kafein. Bukti menunjukkan bahwa konsumsi kafein berlebihan dapat memicu sakit kepala,” ujar Mascha Davis, MPH, RDN, penulis dan ahli gizi terdaftar yang berbasis di Los Angeles kepada Health.

Davis menambahkan bahwa mengonsumsi kafein berlebihan dapat memicu ketergantungan. Ketika seseorang tiba-tiba mengurangi asupan kafein harian mereka, tubuh akan mengalami efek withdrawal seperti lemas dan sakit kepala. 

Selain itu, menurut Lisa Andrews, MEd, RD, LD, ahli gizi dan pemilik Sound Bites Nutrition, konsumsi kafein berlebihan dapat menyebabkan kualitas tidur yang buruk, yang pada akhirnya memicu sakit kepala.

Teh herbal bebas kafein sering dianggap sebagai opsi aman. Namun, masalah bisa muncul jika diminum bersamaan dengan obat resep tertentu. Kandungan seperti ashwagandha atau akar manis (licorice) dalam racikan teh herbal dapat memicu interaksi obat dan meningkatkan hormon aldosteron yang berujung pada sakit kepala.

“Beberapa jenis teh (terutama teh hasil fermentasi seperti teh hitam) mungkin mengandung histamin. Beberapa orang memiliki intoleransi terhadap zat ini, sehingga memicu gejala seperti sakit kepala, ruam gatal pada kulit, hingga hidung tersumbat,” jelas Davis.