Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa. Ini adalah kondisi neurologis kompleks yang ditandai dengan rasa nyeri berdenyut hebat di satu atau kedua sisi kepala, biasanya berpusat di sekitar pelipis atau belakang mata, yang dapat berlangsung dari hitungan jam hingga berhari-hari. Serangan ini kerap disertai mual, muntah, serta sensitivitas ekstrem terhadap cahaya dan suara.

Meski penyebab pasti timbulnya migrain belum sepenuhnya dipahami, para peneliti sepakat bahwa stres adalah salah satu pemicu (trigger) paling dominan. Bahkan, sekitar 80% penderita migrain melaporkan bahwa tingkat stres yang tinggi kerap menjadi pemantik utama munculnya serangan.

Uniknya, tak hanya momen saat stres memuncak yang berbahaya. Fase rileks mendadak setelah periode stres berat (let-down effect) juga kerap memicu serangan migrain secara tiba-tiba.

Mengapa Stres Bisa Memicu Migrain?

Melansir dari laman Healthline, Rabu (5/8/2026), secara medis, stres berdampak pada fluktuasi zat kimia di otak, terutama serotonin, hormon yang berfungsi mengatur ambang rasa nyeri. 

Ketika tingkat stres melonjak atau mendadak turun drastis, perubahan kadar serotonin ini mengganggu sinyal saraf di otak dan memicu peradangan pada pembuluh darah kepala, yang akhirnya berujung pada nyeri migrain yang intens.

Opsi Pengobatan dan Pereda Nyeri Migrain

Jika kamu mengalami serangan migrain akibat stres, penanganannya terbagi menjadi dua kategori utama:

1. Obat Pereda Gejala saat Serangan Terjadi (Acute Treatment)

  • Pereda Nyeri Bebas (OTC): Ibuprofen atau acetaminophen (parasetamol).
  • Obat Resep Spesifik Migrain: Golongan triptan (seperti sumatriptan), ergotamine, atau inovasi baru seperti ubrogepant dan rimegepant.
  • Obat Kombinasi: Kombinasi parasetamol, aspirin, dan kafein kerap digunakan. Namun, hati-hati terhadap medication overuse headache (sakit kepala akibat konsumsi obat berlebih).
  • Catatan: Penggunaan obat antinyeri nonsteroid (NSAID) berlebihan berisiko memicu gangguan pencernaan/lambung. Obat anti-mual atau kortikosteroid juga kadang diberikan sesuai rekomendasi dokter.

Baca Juga: Benarkah Stres Bisa Menyebabkan Demensia? Ini Penjelasan Neuropsikolog

2. Pengobatan Pencegahan (Preventive Treatment)

Dokter biasanya akan merekomendasikan terapi pencegahan harian jika serangan migrainmu terjadi lebih dari 3 kali seminggu, tidak merespons obat biasa, atau sangat mengganggu aktivitas harian. Opsi pencegahan meliputi:

  • Beta-blocker (seperti propranolol)
  • Antidepresan dosis tertentu (seperti amitriptyline)
  • CGRP receptor antagonists (seperti atogepant atau rimegepant)
  • Obat anti-kejang (seperti topiramate) atau suntik Botox di area pemicu nyeri kepala.

Mengelola tingkat stres melalui olahraga ringan, teknik pernapasan, serta istirahat yang cukup adalah langkah awal yang sangat baik untuk mengurangi frekuensi serangan migrain. Namun, perlu diingat bahwa penggunaan obat-obatan pereda nyeri migrain harus dilakukan secara bijak agar tidak menimbulkan efek samping sistemik. 

Jika kamu sering mengalami migrain yang tak kunjung membaik, semakin parah dari waktu ke waktu, atau disertai gejala seperti penglihatan kabur dan mati rasa, sangat disarankan untuk berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis saraf (neurolog) guna mendapatkan diagnosis dan rencana pengobatan yang aman dan tepat.